Qomaruddin.com — Pada 27-31 Agustus 2026, Muktamar NU ke-35 diselenggarakan di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. Seluruh badan yang ada di bawah naungan NU turut memeriahkan agenda sakral ini, termasuk Nahdlatut Turots (NT). Badan yang memberikan perhatian pada kekayaan turots pesantren ini mengadakan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk “membumikan” turots pada nahdliyyin lebih luas.
Di antara kegiatan yang digawangi oleh NT ini adalah Pameran dan Klinik Turots pesantren, Dauroh Tahqiq, Ijazah Sanad, dan Musyawarah Besar Pegiat Turots. Termasuk di antara naskah yang muncul di dalam agenda-agenda Nahdlatut Turots ini adalah naskah-naskah koleksi Pondok Pesantren Qomaruddin.
Para pengunjung Pameran Turots pesantren akan disuguhi Katalog Turots Pesantren dalam banyak volume; masing-masing volume untuk satu pesantren. Terdapat lebih dari tiga puluh volume yang disuguhkan, dan salah satunya adalah volume untuk Pondok Pesantren Qomaruddin. Dalam katalog tersebut, pengunjung bisa melihat identitas sekitar 110 koleksi naskah Bungah. Rentang konten dari naskah-naskah ini sangat lebar, dari bidang-bidang keislaman konvensional seperti fikih, akidah, dan lain-lain, hingga catatan perjalanan dan catatan belanja.
Selain katalog, para pengunjung juga bisa menyaksikan cuplikan naskah Qomaruddin dengan penjelasan yang lebih lengkap di beberapa titik di dalam pameran. Setidaknya ada dua naskah yang ditampilkan dalam format ini. Satu di antara naskah tersebut merekam catatan perjalanan haji yang penting untuk rekonstruksi sejarah sosial rukun Islam kelima tersebut. Satu naskah lainnya berisi sains dan pengetahuan tradisional, konten yang tidak sering ditemukan di koleksi lainnya.

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat lebih lengkap koleksi naskah-naskah Qomaruddin dalam format digital. Jika di format sebelumnya penjelasan naskah yang diperdalam, dalam format ini gambaran naskah yang lebih utuh yang ditampilkan. Salah satu naskah yang ditampilkan dalam format ini adalah naskah “mewah” ʿAwāmil dan Ṣarf yang pada masanya sempat menjadi naskah paling populer untuk menjadi pengikat silaturahim antar-kiai.
Melengkapi pengalaman pernaskahan ini, Pameran Turots juga menampilkan visualisasi jaringan intelektual pesantren se-Nusantara. Jejaring ini disusun berdasarkan manuskrip pesantren yang telah dikumpulkan oleh Nahdlatut Turots selama ini, juga dilengkapi dengan keterangan-keterangan lisan dari masyarakat pesantren. Visualisasi ini membantu menunjukkan pada muktamirin betapa pesantren-pesantren NU telah sejak dulu menjaga tradisi dan transmisi keilmuan klasik secara kolektif keumatan.
Keikutsertaan naskah-naskah kuno Pondok Pesantren Qomaruddin dalam Muktamar NU ke-35 ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren tidak hanya menjaga tradisi keagamaan secara lisan, tetapi juga mewarisi peradaban literasi yang sangat kaya. Melalui ragam kegiatan yang diusung oleh Nahdlatut Turots, khazanah keilmuan serta sejarah sosial masa lalu tersebut kini tak lagi berdebu di lemari penyimpanan, melainkan hadir kembali dan menyapa generasi muda nahdliyyin secara inklusif, interaktif, serta relevan dengan perkembangan zaman.






