Sah Jadi Doktor Ke-145 FEBI UINSA, KH. Muhammad Ala’uddin Raih Predikat Sangat Memuaskan

Qomaruddin Media

Qomaruddin Media

Pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin KH. M. Alauddin mendapat ijazah Doktoral dari Dr. Nurhayati, pada Ahad, 29 Juni 2026 di Gedung FEBI UINSA.

Qomaruddin.com — Ruang Al-Ghazali Lantai 7 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Ampel Surabaya menjadi saksi lahirnya doktor baru yang siap membawa angin segar bagi kemandirian ekonomi pesantren. Pada Senin, 29 Juni 2026, KH. Muhammad Alauddin secara gamblang dan meyakinkan berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Strategi Pemberdayaan Inovatif Koperasi Sarekat Bisnis Pesantren (KSBP) di Jawa Timur” dalam sidang ujian terbuka.

Telah menempuh studi doktoral sejak tahun 2020, Pengasuh Pondok Pesantren Qomaruddin ini menguasai panggung akademik dengan sangat apik. Beliau menyampaikan kritik atas model pelatihan pesantren terdahulu yang dinilai terlalu gebyah uyah (disamaratakan).

“Jaringan pesantren dilatih, tapi pelatihan yang dilakukan terlalu gebyah uyah. Diberi pelatihan membuat sabun, tapi hanya sebatas pelatihan tanpa modal. Akhirnya, tidak ada pesantren mandiri yang benar-benar memproduksi sabun,” ujar Kiai Ala’uddin di hadapan dewan penguji.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Kiai Ala’uddin mengisahkan kilas balik berdirinya KSBP pada tahun 2017 yang kala itu hanya beranggotakan 17 pesantren dengan keterbatasan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Melalui riset mendalamnya, lahir konsep pemberdayaan inovatif berupa pembentukan holding melalui KSBP yang memfasilitasi pesantren untuk mencari modal bersama hingga ke Kementerian Koperasi.

KH. M. Alauddin saat memaparkan desertasinya dihadapan penguji dan tamu undangan, Ahad 29 Juni 2026. Foto: QOM.

Dampaknya sangat konkret. Sebagai contoh, unit usaha di Pondok Pesantren Qomaruddin yang dulunya hanya meraup omset Rp3 juta per hari, kini melesat hingga Rp30 juta per hari setelah berkolaborasi dengan KSBP.

Saat promotor Prof. Dr. H. Muhammad Yazid mempertanyakan aspek keunikan risetnya di tengah ego sektoral pesantren, Kiai Ala’uddin menjawab dengan lugas: “Pesantren itu ibarat kerajaan kecil. Secara keilmuan ada kerja sama, tapi urusan ekonomi biasanya jalan sendiri-sendiri. Di sinilah kami tetap memakai unggah-ungguh (tata krama) pesantren, namun di sisi lain juga mengakomodir budaya baru dengan memberdayakan struktur organisasi pesantren.”

Menjawab pertanyaan Dr. H. Iskandar Ritonga mengenai partisipasi santri, Kiai Ala’uddin menegaskan bahwa 90 persen penggerak unit usaha ini adalah santri dan alumni. Di Pondok Pesantren Qomaruddin sendiri, keberadaan SMK dan program magang dimaksimalkan untuk pengkaderan nyata. “Jangan sampai usahanya sudah maju, tapi kaderisasinya tidak ada,” tegasnya.

Sidang berlangsung semakin dinamis saat membahas sejarah ekonomi Islam. Kiai Ala’uddin mengingatkan bahwa pesantren sempat agak tercerabut dari akar sejarah Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang) yang dipelopori oleh tokoh seperti Hasan Gipo, Ketua NU pertama yang merupakan seorang pengusaha sukses asal Surabaya.

Untuk mengembalikan marwah tersebut, kurikulum berbasis teknologi dan akuntabilitas kini diterapkan. “Dalam ekonomi harus ada akuntabilitas dan pencatatan. Jadi tidak hanya teori, tapi langsung praktik,” tambahnya. Keberadaan KSBP pun diproyeksikan sebagai inkubator bisnis yang mumpuni.

Ketika diuji oleh Dr. Hj. Nurhayati, M.Ag. mengenai temuan kritiknya terhadap koperasi klasik, Kiai Ala’uddin membeberkan kunci sukses KSBP yang mengawinkan profit dengan nilai spiritualitas, seperti kewajiban shalat duha dan istighatsah berjamaah. KSBP berhasil mengubah paradigma persaingan antar-pesantren menjadi kemitraan yang sehat. Bahkan, model ini telah ditiru oleh beberapa provinsi lain di tingkat nasional.

Uniknya, Kiai Ala’uddin juga membagikan strategi cerdas dalam memotong kompas feodalisme atau rasa ewuh pekewuh (sungkan) yang kerap menghambat bisnis pesantren.

“Jika yang datang saat program adalah ustaz, langsung kita japri (jalur pribadi) para Gus-nya untuk mempercepat keputusan,” ungkapnya disambut senyum dewan penguji.
Kekaguman juga datang dari penguji Dr. H. Lathoif Ghozali yang menguji promovendus menggunakan bahasa Arab dan langsung dijawab dengan fasih.

“Saudara promovendus sangat menguasai materi. Biasanya penguji yang bicara panjang, tapi ini promovendus yang bicara panjang. Anda layak jadi doktor,” puji Dr. Lathoif.

Also Read

Leave a Comment