Gus Muwafiq, Santri Sampurnan yang Ta‘dhim pada Guru

| | ,

Qomaruddin.com – Kebutuhan dan kehausan akan pemahaman ilmu agama selalu dibutuhkan masyarakat di setiap masa. Seiring perkembangan zaman, masyarakat membutuhkan cara instan dan mudah untuk mendalami agama. Padahal syarat-syarat dalam belajar agama yang ideal adalah dengan belajar di pondok pesantren atau lembaga pendidikan khusus disertai dengan waktu yang tidak singkat dengan tekun, sabar, dan guru yang ahli di bidangnya.

Realitanya, tidak semua orang bisa meluangkan banyak waktunya untuk menjalani hal tersebut. Maka mendengarkan ceramah dan kajian agama adalah salah satu cara yang paling mudah untuk dilakukan. Dan cara yang lebih mudah lagi adalah menggunakan sosial media untuk mengakses konten keagamaan yang mudah dalam genggaman.

Pembawaan materi yang menarik, ringan, dan mudah dipahami adalah hal yang dicari masyarakat dalam menentukan pendakwah. Dan salah satu dari penceramah yang banyak digandrungi masyarakat adalah Kiai Ahmad Muwafiq atau yang lebih dikenal dengan julukan Gus Muwafiq.

Beliau, Gus Muwafiq adalah kiai yang dikenal dengan keahlian dalam bidang sejarah, selain itu beliau juga dikenal sebagai budayawan dengan identitas rambut gondrong yang khas. Gus Muwafiq berdomisili di daerah Jombor, Sleman, Yogyakarta. Pembawaan beliau yang santai, penuh guyonan khas santri menunjukkan latar belakang beliau pernah nyantri di beberapa pondok pesantren seperti Lirboyo, Bungah, dan lain-lain. Selain itu Gus Muwafiq juga alumni perguruan tinggi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga ‘nyambi’ sebagai aktivis di masa perkuliahan.

Pria kelahiran Solokuro, Lamongan tersebut merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Ishlah Bungah Gresik yang diasuh oleh KH. Ahmad Maimun Adnan. Pondok Pesantren Al-Ishlah merupakan pesantren yang didirikan oleh KH. Ahmad Maimun Adnan yang pada mulanya berupa pondokan sederhana dengan beberapa santri hingga akhirnya menjadi pondok pesantren yang lebih besar yang terletak di dekat Sungai Bengawan Solo.

Pendirian Pondok Pesantren Al-Ishlah didorong oleh keinginan para santri untuk mengaji dan menetap dalam mendalam ilmu agama. Pada akhirnya, KH. Ahmad Maimun Adnan bersedia mendirikan Pondok Pesantren Al-Ishlah setelah sowan dan minta restu pada pada KH. M. Sholih Musthofa, pengasuh Pondok Pesantren Qomaruddin ke-7. Daerah Sampurnan pada masa itu merupakan daerah dengan beberapa pesantren yang berpusat pada Pondok Pesantren Qomaruddin yang merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia yang sudah berdiri sejak tahun 1775 M.

Secara nasab, KH. Ahmad Maimun Adnan merupakan cicit dari KH. Sholih Tsani, pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin ke-5 dan juga keturunan ke-6 dari K. Qomaruddin, pendiri Pondok Pesantren Qomaruddin. KH. Ahmad Maimun Adnan merupakan santri dari KH. Abdul Hadi  Langitan dan Syaikh Masduqi, pendiri Pondok Pesantren Al-Ishlah Lasem sekaligus mertua dari KH. Miftahul Akhyar, yang bersambung pada KH. Dimyathie Termas dan Syaikh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi. Akhirnya pada tahun 1982, secara resmi Pondok Pesantren Al-Ishlah berdiri guna mengembangkan pendidikan keagamaan dan bersinergi dengan pesantren lain di daerah Sampurnan.

Gus Muwafiq nyantri di Pondok Pesantren Al-Ishlah selama tiga tahun sambil melanjutkan sekolah di MAN 1 Bungah Gresik. Bisa dibilang, pondasi ilmu keagamaan kuat beliau dibentuk ketika nyantri di Sampurnan selama tiga tahun ini. Gus Muwafiq juga merupakan santri yang sangat ta‘dhim pada kiai.

Hal ini dibuktikan pada tahun 2015 ketika KH. Ahmad Maimun Adnan wafat, beliau menyempatkan hadir berangkat dari kediaman beliau di Yogyakarta. Dan tidak hanya itu, Gus Muwafiq juga ikut mengangkat jenazah KH. Ahmad Maimun Adnan hingga turun masuk ke liang lahat untuk memberikan penghormatan terakhir pada guru beliau.

Hingga saat ini, Gus Muwafiq menjadi salah satu kiai yang populer di kancah nasional dan telah melalang buana ke penjuru tanah air, khususnya di Pulau Jawa, untuk mengisi ceramah agama baik di desa, pesantren, ataupun suatu instansi. Semakin tinggi suatu tempat, maka semakin kencang angin yang menerjang, begitulah kira-kira peribahasa yang dapat menggambarkan keadaan Gus Muwafiq saat ini. Seorang kiai muda yang patut dijadikan teladan pemuda masa kini, sehat selalu Gus.

Latest posts by Agil Muhammad (see all)
Previous

Gus Yahya Dorong Masyarakat NU Berpikiran Terbuka dalam Menyongsong Masa Depan

Sekilas Tentang Haul Bungah

Next

1 thought on “Gus Muwafiq, Santri Sampurnan yang Ta‘dhim pada Guru”

Leave a Comment