Lestarikan Karya Intelektual Kiai Nusantara, Nahdlatut Turots Langsungkan Digitalisasi manuskrip di Pondok Pesantren Qomaruddin

Qomaruddin.com Tim Nahdlatut Turots melakukan digitalisasi dan katalogisasi ratusan kitab dan manuskrip di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah pada 26-29 September 2022 sebagai upaya menyelamatkan dan melestarikan karya intelektual muassis pesantren.

Rombongan yang terdiri dari sembilan orang itu tiba di Pesantren Qomaruddin pada Senin (26/9), dengan pertama-tama sowan ke ndalem Qomaruddin dan mengambil kitab di rumah Gus Alauddin, Ketua Pondok Pesantren Qomaruddin. Pengerjaan digitalisasi dan katalogisasi dimulai sejak Senin malam, dengan membagi rombongan dalam dua tim, yaitu tim katalogisasi dan tim digitalisasi.

Salah satu anggota tim Nahdlatut Turots, Ainur Ridlo mengatakan bahwa output atau hasilnya akan ada dua, yaitu digitalisasi dan katalogisasi, lantaran pihaknya mempunyai target untuk membuat repositori database manuskrip Nusantara.

“Kita ingin melestarikan turots karya-karya ulama kita, peninggalan-peninggalan intelektual para kiai kita, yang mungkin masih bisa terselamatkan, sehingga itu bisa digunakan dan bermanfaat untuk khalayak masyarakat umum,” kata Ainur Ridlo.

Dalam proses digitalisasi, rombongan Nahdlatut Turots juga ditemani oleh pengurus pondok pesantren Qomaruddin. Ahmad Wasil, salah satu koordinator santri Pondok Pesantren Qomarudin menjelaskan beberapa manuskrip yang didigitalisasi tersebut ditulis oleh para kiai dzurriyah Mbah Qomaruddin, diantaranya Zakariya, Abdurrahman, kitab ngajinya Kiai Ismail, dan yang lain.

“Mengingat ini adalah khazanah keilmuan para muassis Pesantren Qomarudin, ini adalah perjalanan intelektual para muassis, yang secara fisik ada dan usianya ratusan tahun. Jika tidak diselamatkan dengan digitalisasi, dikhawatirkan itu akan rusak, tidak terawat, hilang dan tidak terbaca terutama oleh santri-santri Qomaruddin, juga khalayak umum. Karena itu, kami sangat mendukung digitalisasi ini,” kata Gus Wasil.

Lajnah Turots Qomaruddin

Ketua Pondok Pesantren Qomaruddin, Gus Alauddin menyambut baik kedatangan rombongan Nahdlatut Turots, menambahkan bahwa alih digitalisasi atau alih media ini merupakan keniscayaan sebagai salah satu upaya untuk melestarikan dan merawat peninggalan dari muassis Pondok Pesantren Qomaruddin.

“Agar semua santri dan masyarakat bisa mengakses turots yang ada di Pesantren Qomaruddin dengan mudah. Sehingga ilmu-ilmu warisan  leluhur ini tetap bisa dipelajari oleh generasi milenial, dan semoga terus bisa diamalkan ila yaumil qiyamah,” kata Gus Ala’uddin.

Gus Ala’uddin menegaskan bahwa Pesantren Qomaruddin ke depan dan dalam waktu dekat akan membentuk Lajnah Turots yang akan bertugas dan fokus untuk merawat fisik manuskrip sekaligus mengkaji ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya.

“Tentu ini membutuhkan dukungan para ahli. Dan alhamdulillah kita dibantu oleh Nahdlatut Turots, PW LTN NU, Perpusda, Manassa, Dreamsea, dll,” imbuh Gus Ala’uddin.

Gus Ala’uddin juga berharap upaya pelestarian peninggalan muassis juga akan dilanjutkan dengan penelusuran dan pengkajian benda-benda bersejarah yang berada di Pesantren Qomaruddin serta yang tersebar di dzurriyah Mbah Qomaruddin.

“Bukan hanya dari sisi mistisnya, tapi untuk memperkuat bukti kiprah pesantren dalam mendirikan dan membangun bangsa ini, untuk menunjukkan bahwa pesantren berperan penting dalam menumbuh kembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat,” tambah Gus Ala’uddin.

Harapan serupa juga disampaikan oleh rombongan Nahdlatut Turots dengan menekankan pentingnya kaderisasi.

“Kami berharap ada kaderisasi dari pihak pesantren. Jadi, ketika kami melakukan agenda digitalisasi, para santri juga diajak untuk belajar melakukan pembelajaran digitalisasi sehingga nanti pondok tersebut akan mandiri. Dengan begitu, digitalisasi selanjutnya tidak perlu membutuhkan tenaga dari luar,” kata Ainur Ridlo.

Ratusan Manuskrip

Proses pendigitalan manuskrip tidak semudah yang dibayangkan karena membutuhkan beberapa proses seleksi-kategori dan detil-detil naskah, termasuk tahun terbit, penulis naskah, sampai jenis kertas.

“Di bagian awal, banyak yang tidak ada judulnya, tahunnya, sehingga harus dicari dulu. Meskipun ada yang rusak, bolong-bolong, dimakan rayap, tapi alhamdulilah, tulisan tangan Mbah Sholeh Tsani sebagian besar masih bisa dibaca,” kata Ainur Ridlo.

Ainur Ridlo juga menuturkan dari ratusan naskah manuskrip itu berisi kandungan yang bermacam-macam seperti fan ilmu fiqh, tasawuf, nahwu-shorof, hingga kumpulan wirid dan doa yang sangat penting untuk dilanjutkan pada proses tahqiq dan perawatan..

“Ada banyak sekali manuskrip di Pesantren Qomaruddin ini. Yang kami digitalkan saat ini ada sekitar 200-an,” tambah Ainur Ridlo.

Menanggapi itu, Gus Wasil juga mengatakan bahwa proses pelestarian manuskrip muassis Qomaruddin tidak akan berhenti pada digitalisasi kali ini. “Harapannya ada semacam yang bisa mengkaji, tidak hanya fisik tetapi kemudian juga isi dari kitab-kitab tersebut tetap bisa dikatakan kitab-kitab tersebut ini adalah kitab yang masih original,” tambahnya.

Penulis: Maghfur / Editor: Agil

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top