Khidiran: ritual pengawal Haul dan berbagai keistimewaannya

Qomaruddin Media

Qomaruddin Media

“Nek gak khidiran, yo gak sido Haul”

Qomaruddin.com — Banyak orang selama ini menyangka bahwa pembuka rangkaian Haul KH. Sholeh Tsani atau yang dikenal dengan Haul Bungah adalah Lailatul Qira’ah. Dengan perubahan yang terjadi pada tahun ini, banyak juga yang mengira bahwa pembuka rangkaian Haul adalah tadarus al-Qur’an bil ghoib. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, namun kurang tepat. Ritual pembuka Haul selama ini sebenarnya adalah ritual internal yang dikenal dengan Khidiran.

Seperti bisa diduga dari namanya, Khidiran memiliki keterkaitan dengan Nabi Khidir. Dalam sambutan pengantar beliau, K.H. M. Ala’uddin menjelaskan bahwa bacaan-bacaan dalam Khidiran ini adalah ijazah dari Nabi Khidir yang disampaikan kepada Kurz bin Wabrah, salah satu tabi’in dari Kufah yang dikenal luas kewaliannya.

Mengutip Qūt al-Qulūb dan Iḥyā’ ‘Ulūmuddīn, Kiai Ala’uddin menyampaikan lebih lengkap kisah kemunculan wirid ini. Dalam kedua rujukan tersebut, dijelaskan bahwa Imam Kurz didatangi seorang teman beliau dari Syām (sekarang Syiria). Teman tersebut kemudian menghadiahi sebuah wirid yang didapatkannya dari seorang wali besar lainnya, yaitu Ibrāhīm al-Taymī.

Ibrāhīm ini lah yang mendapatkan wirid ini dari Nabi Khidir. Suatu hari ketika beliau beribadah di depan Kabah, beliau ditemui seseorang berbaju putih bersih. Orang asing ini kemudian memberi beliau hadiah berupa bacaan wirid untuk ia baca setiap pagi dan sore. Setelahnya, beliau mengaku diri sebagai Nabi Khidir. Ketika ditanya tentang faidah wirid ini, Nabi Khidir mempersilakan Syaikh Ibrāhīm untuk bertanya langsung kepada Nabi Muhammad.

Kisah berlanjut dengan Syaikh Ibrāhīm yang dipersilakan masuk surga dan bertemu tujuh puluh malaikat dan tujuh puluh nabi, termasuk Nabi Muhammad saw. Saat itulah Syeikh Ibrāhīm mendapatkan jawaban dari Nabi, dan benar saja, itulah faidah wirid yang dihadiahkan Nabi Khidir tersebut: nikmat masuk surga dan bertemu para nabi kekasih Allah.

Wirid tersebut kemudian dikenal dengan al-musabbi‘āt al-‘asyrah (sepuluh bacaan yang dibaca masing-masing tujuh kali). Berbeda dengan al-musabbi‘āt yang sering dibaca selepas Salat Jumat, wirid Nabi Khidir ini dimulai dari Surat al-Nās dan bergerak ke depan hingga Surat al-Kāfirūn. Di luar surat-surat ini, hitungan sepuluh dilengkapi dengan shalawat dan beberapa doa.

Namun, berbeda dengan anjuran Nabi Khidir, di Sampurnan pada periode awal, wirid ini dilaksanakan pada tengah malam. Waktu pembacaan wirid ini kemudian digeser menjadi bakda maghrib dan tahun ini dilakukan bakda salat Isya. Khidiran ini dilakukan di ndalem pengasuh utama dan dihadiri oleh para keluarga dibantu juga warga yang tinggal di sekitar Pondok (first circle).

Hal menarik lain yang juga merupakan kekhasan Sampurnan adalah sajian bubur dan ketan yang juga terdiri dari tujuh macam. Mengutip keterangan dari Kiai Ala’uddin di momen lain, sajian ini terdiri dari bubur putih dengan topping telur dadar, bubur merah dengan topping santan kental, ketan putih dengan topping kelapa merah manis, dan ketan kuning. Lebih menarik lagi, semua masakan ini dimasak tanpa garam.

Lebih menarik lagi, semua hidangan ini harus dimasak oleh perempuan yang setiap hari bisa beribadah tanpa gangguan datang bulan. Tidak hanya itu, perempuan itu juga harus berpuasa makan dan bicara sebelum memasak semuanya. Selama tahun-tahun sebelumnya, perempuan terpilih tersebut adalah Ny. Hj. Lilik, istri K.H. Abdul Fattah Sholih. Namun, karena kondisi fisik dan kesehatan beliau, kini peran tersebut digantikan oleh Ny. Hj. Ahsanatul Munawwaroh, istri dari K.H. Kholil Karim. Juga berbeda dari tahun sebelumnya, pada tahun ini, Khidiran dipimpin oleh Gus M. Minanurrohman, putra keempat dari alm. K.H. Ahmad Bukhori Hadi, pengasuh Pondok Pesantren an-Nafi’iyah.

Warisan-warisan tradisi semacam ini alḥamdulillāh tetap terjaga lestari. Seperti disebutkan di awal, menurut keterangan keluarga ndalem, Khidiran menjadi penanda resmi (internal) dimulainya kerja para panitia Haul. Sebegitu sakralnya Khidiran ini, sampai-sampai beredar ungkapan “nek ga Khidiran, yo gak sido Haul”. Namun, secara umum, tujuan Khidiran adalah agar agar barokah bacaan wirid dan Nabi Khidir mengalir pada keluarga besar Pondok Pesantren Qomaruddin. Semoga barokah tersebut juga meluber pada semua santri dan masyarakat yang hadir dalam Haul KH. Sholeh Tsani.

Artikel Terkait

Leave a Comment