Qomaruddin.com – Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Qomaruddin kembali melaksanakan regenerasi kepemimpinan melalui agenda Pembekalan dan Uji Kompetensi Calon Kepala Madrasah/Sekolah Periode 2026-2030. Kegiatan ini merupakan langkah strategis yayasan untuk memastikan roda organisasi pendidikan berjalan optimal serta mampu merespons tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Isma’il Hamim, menyampaikan bahwa agenda ini merupakan kelanjutan dari tahapan seleksi awal yang telah digelar pada 17 Januari 2026 lalu.
“Peserta kegiatan ini adalah calon kepala sekolah dan madrasah yang eligible, yakni mereka yang masih memenuhi syarat administratif dan kualifikasi untuk dicalonkan menjadi pimpinan di unit pendidikan masing-masing,” ujar Ismail Hamim, Kamis (2/4).
Rangkaian Seleksi dan Pembekalan Komprehensif
Proses seleksi dirancang secara ketat dan berlangsung dalam tiga tahapan utama. Isma’il merinci, pada tanggal 2 April 2026, peserta mengikuti dua sesi pembekalan dan uji kompetensi yang berfokus pada Inovasi Pendidikan dan Manajemen Pengelolaan Sekolah/Madrasah.
Tahapan selanjutnya akan dilaksanakan pada 6 April 2026 berupa Seleksi Tes Psikologi, dan ditutup dengan Seleksi Wawancara pada 7 April 2026. “Semua peserta calon kepala sekolah dan kepala madrasah diwajibkan mengikuti seluruh sesi yang ada tanpa terkecuali,” tegasnya.
Kedepankan Objektivitas, 60 Persen Penilaian dari Pihak Eksternal
Ketua YPP Qomaruddin, KH. Abdul Qodir, menjelaskan bahwa suksesi ini adalah sebuah keniscayaan agar organisasi senantiasa mengalami penyegaran dan siap menghadapi tantangan baru.
Setelah melalui seleksi administratif di tingkat yayasan—dengan syarat meliputi minimal golongan 3c, telah tersertifikasi, dan usia di bawah 56 tahun per 1 Juli—terpilih sebanyak 28 calon kandidat. Mereka akan bersaing untuk mengisi jabatan pada 10-unit pendidikan di lingkungan YPP Qomaruddin. Menariknya, pada periode ini, Kepala Madrasah Diniyah turut diikutsertakan dalam proses seleksi dan pembekalan.
Untuk menjamin kualitas dan objektivitas, YPP Qomaruddin menerapkan sistem pembobotan nilai yang ketat.
“Kami mengambil narasumber dan assessor dari pihak eksternal agar objektivitasnya terjaga,” jelas KH. Abdul Qodir.
Adapun komposisi penilaian terdiri dari:
- 30% Kompetensi Akademik (dari narasumber eksternal)
- 30% Hasil Psikotes (eksternal)
- 40% Wawancara Yayasan
“Jadi, 60 persen nilai murni berasal dari penilaian pihak luar. Harapan kami, terlepas dari terpilih atau tidaknya nanti, seluruh peserta dapat menjadikan ajang ini sebagai wadah peningkatan kompetensi dan menjadi motor penggerak di organisasinya masing-masing,” tambahnya.
Menghadapi Era Disrupsi: Inovasi Tanpa Meninggalkan Tradisi
Di hadapan para kandidat, KH. Abdul Qodir memberikan peringatan serius mengenai tantangan pendidikan di masa depan, terutama terkait pesatnya perkembangan teknologi atau era disrupsi digital. Pertumbuhan teknologi yang eksponensial membuat sebuah institusi bisa dengan cepat tertinggal zaman jika tidak berinovasi.
“Tantangan ke depan tidak semakin mudah. Kita berada di lingkungan pondok pesantren tua yang tradisinya alhamdulillah masih terjaga dengan baik. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga ruh pesantren di tengah arus modernitas,” paparnya.
Pihak yayasan saat ini tengah menggodok instrumen khusus untuk mendefinisikan dan mengawal karakter pesantren agar dapat diterapkan di seluruh unit pendidikan secara terintegrasi.
Selain itu, sejalan dengan visi YPP Qomaruddin untuk menjadi pusat pendidikan Islam yang profesional dalam mencetak Generasi Ulul Albab, KH. Abdul Qodir berpesan agar para calon pemimpin tidak terjebak dalam rutinitas.
“Kepala sekolah jangan hanya main di zona nyaman saja. Kita butuh pemimpin-pemimpin yang kuat dan punya inovasi agar kita mampu menghadapi perkembangan teknologi digital selama empat tahun ke depan,” tutupnya.






