Khataman Kitab Safinah Bi Riwayati KH. Sholeh Tsani Warnai Silatnas 2 IKBAL Qomaruddin

Qomaruddin Media

Qomaruddin Media

Kataman Kitab Safinah

Qomaruddin.com – Pada Kamis (7/12/2023), Silaturrahmi Nasional (Silatnas) Ikatan Keluarga Besar Alumni Qomaruddin (IKBAL Qomaruddin) berlangsung sukses dan penuh antusias. Dihadiri ratusan alumni dari berbagai angkatan, Silatnas IKBAL Qomaruddin itu diwarnai dengan ekspresi nunduk-khusyuk-dingkluk tapi tidak ngantuk, melainkan aktif nyemak Kitab Safinah Bi Riwayati KH. Sholeh Tsani.

Digelar di Halaman SMA Assa’adah, Silatnas kedua ini juga dihadiri oleh para kiai dari dalam dan luar Gresik. Mereka bergiliran membaca kitab Safinah Bi Riwayati KH. Sholeh Tsani. Beberapa kiai yang membacakan kitab tersebut adalah:
1) K.H. Mas Samsuddin Zuhri (Sidoresmo); 2) Lora Usman Hasan al-Akhyar (Nahdlotut Turots, Pamekasan); 3) KH Ridhoul Maghfur; 4) Ust. Maisur Cholid (Sarang); (5) K.H. Mudlofar Utsman (Manyar); (6) Ust. Atiq Mujahid (Mengare); (7) K.H. Nanal Ainal Fauz (Demak); (8) Dr. Ahmad Karomi (LTN PWNU); (9) K.H. Ma’shum Luthfillah (Sampurnan); (10) K.H. Moch. Chusnan Ali (Wakil Katib Syuriyah PWNU, Bungah); (11) K.H. Abdul Majid Idris (Manyar); dan (12) K.H. Makmun Zen (Manyar).

Khataman Kitab Safinah

Ketua IKBAL Qomaruddin, H. Syamsudl Dluha menyampaikan bahwa seperti di Silatnas pertama pada tahun 2022, di Silatnas kedua ini para alumni juga mendapatkan ijazah dari Pemangku Pondok Qomaruddin.

“Jika yang pertama mendapatkan ijazah Rotibul Hadad dari Pemangku Pondok Qomaruddin saat itu (alm.) KH. M. Iklil Sholeh, maka yang kedua ini para alumni mendapatkan ijazah Safinah dari Pemangku Pondok Qomaruddin saat ini KH. Ala’uddin,” kata sosok yang kerap disapa Gus Syam itu.

Gus Syam juga mengatakan bahwa para alumni sudah seharusnya mengetahui bahwa Pondok Qomaruddin dari dulu memang terkenal dengan pondok fikih dan tasawuf. “Perhatian pondok Qomaruddin pada fikih sangat kuat. Mbah Sholeh Tsani bahkan sampai menyalin dengan tulisan tangan kitab Safinah 3 kali. Masing-masing juga punya catatan-catatan tersendiri,” tambahnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Tim Manuskrip Sampurnan, Kiai Mudlofar Utsman menyampaikan bahwa sejauh ini Tim Manuskrip masih menemukan salinan yang kedua dan yang ketiga.
“Kitab yang pertama ditulis saat Mbah Sholeh mondok di Kedung Meduro. Lalu yang kedua ditulis setelah menikah dan mondok di Kiai Ismail Pamekasan. Dan yang ketiga saat sudah sepuh. Di naskah kedua dan ketiga mempunyai beberapa perbedaan catatan,” jelas Kiai Mudlofar.

Kiai Mudhofar Utsman

Setelah mengkaji kedua naskah yang sementara telah ditemukan ini, Tim Manuskrip mendapati kekhasan dalam salinan Mbah Sholeh. Yang cukup menonjol adalah banyaknya riwayat yang beliau dapatkan dari sang guru, yakni Syekh Ammari Baraqbah dan Syekh Ismail Pamekasan. Keterangan yang beliau dapatkan dari gurunya tersebut merupakan kalimat orisinal yang tidak ditemukan di literatur turats ulama sebelumnya. Meski begitu, beliau tetap menambahkan beberapa referensi dari ulama sebelumnya, seperti Syekh Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Ibrahim al-Bajuri. Tidak hanya itu, beliau juga menambahkan beberapa keterangan yang menyesuaikan konteks Jawa, khususnya dalam hal ukuran air dan takaran zakat.

Kekhasan lain yang lebih samar adalah perbedaan matan Safinah dalam naskah Mbah Sholeh. Walaupun perbedaan-perbedaan tersebut tidak begitu fatal dan berpengaruh pada hukum yang disampaikan, namun tetap itu menjadi identitas salinan Mbah Sholeh. Betapapun, alasan inilah yang sebenarnya menjadi dasar utama penyebutan bi-riwayati dalam judul (Kitab al-Safinah bi-riwayati Mbah Sholeh Bungah).

Setelah khataman, acara yang juga disiarkan secara Live di kanal YouTube Pondok Qomaruddin itu kemudian dilanjutkan dengan pemberian ijazah dan doa dari KH. Ala’uddin. Hadir pula dalam acara tersebut Ketua YPP Qomaruddin, KH. M. Nawawi, Ir. Abdul Qodir, Chusnan, Ketua Tim Manuskrip Sampurnan Ki Wasil Amin, Tim Manuskrip, dan yang lain.

Artikel Terkait

Leave a Comment