Gus Yahya Dorong Masyarakat NU Berpikiran Terbuka dalam Menyongsong Masa Depan

| |

 

Qomaruddin.com – “Kita harus open minded terhadap dinamika yang terjadi masa kini. Kita sudah tidak berbicara untuk mempertahankan masa lalu, tapi kita harus memiliki semangat untuk menyambut masa depan.”

Demikian perkataan yang diungkapkan oleh KH Yahya Cholil Staquf dalam Seminar Nasional bertajuk “Positioning dan Strategi Transformasi NU dalam Dinamika Milenial” yang diselenggarakan atas kerjasama Ikatan Keluarga Besar Alumni MA Assa’adah Bungah dan Institut Agama Islam Qomaruddin Bungah Gresik, Ahad (01/12/2019).

Gus Yahya, sapaan akrabnya, menyoroti substansi kinerja Nahdlatul Ulama sebagai organisasi muslim terbesar di dunia dalam merespon perubahan zaman.

“Hubungan jam’iyah dengan jama’ah ini seharusnya seperti hubungan pemerintah dengan warga negaranya, sehingga kita bisa memfasilitasi para jamaah, kita bisa tahu apa saja yang dibutuhkan oleh jamaah. Hanya saja NU ini belum mampu seperti itu, karena memang kita tidak memiliki klaim teritori, kita tidak bisa memaksa secara fisik terhadap problematika tersebut”.

Permasalahan pelik yang sejauh ini dihadapi Nahdlatul Ulama terpusat pada gairahnya dalam menyoroti peristiwa-peristiwa keagamaan belaka, padahal unsur ijtima’iyah atau kemasyarakatan juga menjadi nilai dasar perjuangan Nahdlatul Ulama.

“Kalau NU masih bisa berperan secara efektif, maka NU akan semakin relevan dan dibutuhkan”, ucap Katib ‘Aam PBNU tersebut.

Gus Yahya di akhir sesinya juga berpesan kepada para audiens yang notabene santri atau alumni Pesantren Qomaruddin perihal keistimewaan mengenyam pendidikan di pesantren. Bahwa belajar di pesantren bukan hanya belajar dari aspek kognitif belaka, tapi integral dengan pendidikan spiritual sehingga muncul dedikasi terhadap ilmu secara totalitas.

Penekanan terhadap kerja-kerja pemberdayaan kalangan muda pesantren di era kepemimpinan Gus Dur menjadi materi khusus yang disampaikan oleh pemateri kedua, Dr. Abdul Gaffar Karim dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

“Gus Dur tidak berani mengubah cara pikir kiai, namun Gus Dur mengubah cara berpikir santri”, tutur Praktisi Politik UGM asal Madura.

Pergolakan anak muda NU di era Gus Dur yang rata-rata dilaksanakan di tingkat arus bawah, berdampak pada kelenturan sikap kiai-kiai NU dalam merespon perubahan tata kelola zaman. Ketimpangan struktural yang dihadapi NU kala represi Orde Baru merupakan faktor yang membuat Gus Dur memobilisasi anak-anak muda NU.

“Gerakan civil society yang penting di tahun 90-an dilakukan kalangan NU. Bagi saya generasi milenial yakni anak-anak muda adalah kunci Nahdlatul Ulama. Generasi milenial adalah esensi komunitas sosiologis NU, kalangan mileniallah yang bergerak secara penting”, tegas Pak Gaffar.

Dalam membumbui isu global yang dihadapi oleh kaum milenial pesantren, Pak Gaffar mengingatkan bahwa tugas para santri adalah yaitu perubahan tanpa merusak, menjadi agen perubahan tanpa mengobok-ngobok, tidak ada santri NU yang pulang lalu mengkafirkan orang tua dan mengkafirkan yang lain.

Seminar ini diikuti oleh 400 peserta dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, pengurus NU di tingkat Kabupaten Gresik dan Provinsi Jatim serta para alumni Pondok Pesantren Qomaruddin. (afqo)

Previous

Adakan Seminar Nasional, Bukti IKBAL MADAH dan IAI QOMARUDDIN Peduli Generasi Milenial

Gus Muwafiq, Santri Sampurnan yang Ta‘dhim pada Guru

Next

Leave a Comment