Dzikir Saman di Pesantren Qomaruddin – Kenangan Sebagai Santri

| |

Qomaruddin.com Pertama kali saya mengenal dan ikut Dzikir Saman ini karena saya sebagai santri di Pesantren Qomaruddin, sebenarnya saya semenjak masuk di jurusan sejarah saya lebih nyaman dengan istilah pesantren sampurnan, ini lebih soal rasa dan refleksi sebagai gerak sejarah dalam dunia Islam Jawa, kita tak akan bahas itu, kembali kepada kenangan, Ya. Tahun 2003, saya masuk pesantren, dan lulus tahun 2009.

Rentang tahun ini saya ikut, dan Alhamdulillah saya berkesempatan ikut di langgar agung yang lama sebuah bangunan keagamaan yang indish sekali, bangunan tempat ibadah yang lama ini menambah kekhusyukan bagi yang khusyuk. Saya termasuk kategori yang tak bisa begituan. Saya hanya menikmati irama susunan dzikirnya beserta bangunan kuno nya dalam beberapa refleks secara pribadi hari-hari ini.

Dahulu saya tak sempat begitu, sebagai santri yang penting ikut tradisi kyai, nderek kyai, tabarukan kyai, Khidmah kyai. Tapi kini, apa kita sebagai alumni masih berhaliyah itu, berparadigma itu, saya kira masih. Dan kira-kira beginian pasti di tertawain oleh H. Moh. As’ad dan Doktor Gus Mahfudz. Dua sahabat kuliah di Jogja yang sangat keren, keduanya adalah kakak kelas saya.

Mereka kembali ke bumi Gresik area sampurnan dan menjadi pendagogi ala kebudayaan Islam bernafas haluan madzab Jogja yang bisa kadang kanan, bisa kiri, bisa kanan moderat dan juga bisa kiri moderat. Kalau saya jadi pedagang kaki lima di pasar legi Parakan temanggung Jawa tengah.

Alhamdulillah dua sahabat meneruskan perjalanan sebagai manusia pendidik, dan saya masih ingat mereka , cita-cita mereka terhadap pendidikan Gresik , mereka berdua berasal dari bumi luhur mengare, sebuah kawasan pesisir Utara Jawa yang religius dan Egaliter dalam studi etnograf para antropolog kelas mahasiswa. Keduanya selalu hadir dalam dunia dzikir saman di Qomaruddin ketika saya ikut, dan selalu saya nderekke dua senior kelas Jawa timur ini.

As’ad dan Mahfudz adalah nama yang selalu ku ingat dalam perhelatan dzikir saman selain para Masyayikh sampurnan dan guru-guru yang pernah ngajar saya, mendidik saya, dan saya tak berani menyimpulkan kehidupan mereka, menilai ini itu, tugasku sebagai manusia yang pernah nyantri ya minta keberkahan dan keridhoan atas ilmunya, ini aku akting sebagai santri yang ideal lho ad, fudz.

Yang di Keramatkan pada Dzikir Saman Qomaruddin

Apa yang di sakralkan dalam prosesi upacara dzikir saman di Pondok Pesantren Qomaruddin ini? Apakah dzikir yang khas itu, apa lampu yang di padamkan itu, apa doa-doa dari pemimpin ritual itu, apa bacaan ayat-ayat Al Qur an dan tahlil itu, saya bertanya kepada kedua sahabat ku itu? Apa momentum malam songolikur, atau apa? Saya kira ini pertanyaan untuk di jawab oleh master sejarah UGM As’ad dan Doktor UIN Surabaya tafsir hadir Gus doktor Mahfudz. Kita kan tak tahu pengalaman secara spiritual individu bahkan kolektif terhadap prosesi acara ini, itu saya loh.

Ikatan Sosial,

Yang menarik dari sini adalah adanya ikatan sosial antar santri yang sudah terhubung antara santri dan kyai kembali menemukan momentum. Momentum ini hidup dalam lingkungan tertentu, ia berwujud sebagai suatu tempat berjumpa dan berkumpul secara bahagia. Sambil tertawa-tawa, sambil mengangkat kenangan yang romantis, dan disinilah lahir komunitas paseduluran santri yang ideal. Entah nantinya ada persoalan sosial, politik bahkan ekonomi pun bisa di jadikan sebuah bangunan bersama dalam hal tertentu, tapi secara prinsipil, dugaan saya ikatan sosial itu di bangun atas upacara dzikir saman ini.

Solidaritas Sosial,

Sehabis dzikir ada dua prosesi, Pertama makan lengseran bersama-sama, bahasanya di kepung limo-limo, kedua, dapat bingkisan berkat.

Sangatlah indah sekali, proses ini, sehabis menyapa Tuhan beserta harapan nya , makan-makan lantas dapat bingkisan. Sekalipun tradisi ini mahal sebenarnya, akan tetapi solidaritas sosial ini sudah tumbuh dalam wajah Islam sampurnan, bingkisan berkat datang dari warga itu sendiri, ini adalah pesan kemasyarakatan yang luhur dalam sekian defenisi. Wajah Islam sampurnan yang perlu di kampanye kan.

Tetapi, kembali mengingat sampurnan adalah mengingat Islam di pesisir Utara Jawa abad 18, selain pesantren Sidogiri Pasuruan, saya kira pesantren yang berdiri di abad ini, yang bertahan adalah pesantren sampurnan bungah Gresik. 1775 M, adalah tahun Dimana dilahirkan nya pesantren ini, secara infrastruktur untuk di jadikan sebagai sebuah model sudah sangat layak kakak Mahfudz dan As’ad. Tapi itu hanyalah harapan-harapan. Saya takut nanti di japri oleh As’ad, cita-cita mu apa Bash! Kok selalu mengelu di hadapan massa!!!.

Jadi, sebenarnya saya nulis beginian ini dalam rangka mengingat, Ya hanya mengingat, tak lebih. Semoga saya mendapatkan keberkahan dari para guru di peradaban sampurnan.

Malam, 29 Ramdhan, 1432, Lereng Sindoro Parakan Temanggung.

Hasan Bashori.

Hasan Bashori
Latest posts by Hasan Bashori (see all)
Previous

Mengisi Ramadhan, Lestarikan Manuskrip Keislaman di Pesantren Jawa Timur

Istiqāmah Dzikir Saman di Masa Pandemi

Next

Leave a Comment