Qomaruddin.com — Lebih dari 9.000 jamaah yang terdiri dari santri, siswa-siswi, wali santri, alumni, hingga masyarakat umum dari berbagai penjuru memadati Komplek Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan, Bungah, Gresik, pada Kamis (5/11/2026). Kehadiran lautan jamaah ini bertujuan untuk mengikuti Majelis Tahlil Putra-Putri dan Peringatan Haul ke-128 KH. Muhammad Sholih Tsani (KH. Nawawi).
Majelis penuh berkah ini dihadiri langsung oleh ulama kharismatik asal Lasem, KH. Abdul Qoyyum Manshur (Gus Qoyyum). Turut hadir pula jajaran ulama dan tokoh masyarakat, di antaranya Ketua PCNU Gresik KH. Mulyadi, Ketua Umum MUI Gresik KH. Ainur Rofiq, KH. Umar Thoha, KH. Makruf (Suci), KH. Muhsi (Tebuwung, Dukun), KH. Abdul Malik (Dukun), KH. Hadziq Maimun (Al-Islah), serta akademisi asal NTB Prof. M. Zaidi. Hadir pula para kiai dan ibu nyai pemangku pondok pesantren se-Kabupaten Gresik, beserta Wakil Bupati Gresik dr. Asluchul Alif, Kapolres Gresik, dan jajaran Forkopimcam Bungah.
Mewakili keluarga besar Pondok Pesantren Qomaruddin, KH. Ma’shum Luthfillah menyambut hangat kehadiran seluruh jamaah sekaligus menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam penyambutan. Dalam sambutannya, beliau menggarisbawahi pentingnya menjaga ikatan batin dan keilmuan antara alumni, santri, dan almamater.
KH. Ma’shum mengibaratkan hubungan antara alumni dan pesantren layaknya bola lampu yang membutuhkan aliran listrik agar tetap menyala. Tanpa ketersambungan yang utuh, cahaya manfaat tidak akan bisa memancar.
“Para alumni, santri, dan asatidz harus terus menjaga hubungan dengan Pondok Qomaruddin. Ibarat lampu, bagaimana bisa terus menerangi jika tidak ada kabel yang tersambung? Begitu juga dengan kita, silaturahmi harus terus dijaga agar cahaya perjuangan pesantren tetap benderang,” tutur KH. Ma’shum di hadapan ribuan hadirin.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Gresik dr. Asluchul Alif yang turut hadir memberikan sambutan sekaligus menyerahkan secara simbolis penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka 2026 kepada Pondok Pesantren Qomaruddin, seiring dengan pelestarian khazanah karya turats berjudul Hidāyat al-mubtadi li mas’alat al-muqtadi. Manuskrip tersimpan di Galeri Manuskrip Sampurnan.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan mauidhoh hasanah oleh KH. Abdul Qoyyum Manshur (Gus Qoyyum). Dengan gaya penyampaian yang khas dan merujuk langsung pada berbagai literatur klasik, Gus Qoyyum mengupas hakikat ulama dan pentingnya menjaga kesucian harta serta keistiqomahan ibadah.
Gus Qoyyum menjelaskan bahwa dalam sejarahnya, tipologi ulama terbagi menjadi dua. Pertama adalah karakter ulama Bani Israil (Bani Ya’qub keturunan Nabi Ishaq) yang kerap berkompromi dengan kepentingan duniawi. Kedua adalah ulama sejati sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an (Innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama), yakni ulama yang benar-benar memiliki rasa takut (khasyyah) kepada Allah SWT.
“Ulama yang takut kepada Allah inilah yang diharapkan umat. Ciri utamanya adalah wira’i—yakni sangat berhati-hati, menjauhi perkara yang haram, serta meninggalkan hal-hal yang syubhat atau tidak jelas,” tegas Gus Qoyyum.
Lebih lanjut, pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem tersebut mengingatkan agar para kiai dan tokoh agama ekstra hati-hati terhadap pemberian atau rezeki yang tidak jelas asal-usulnya (“rezeki yang aneh-aneh”).

Menukil kitab Ihya’ Ulumiddin karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, Gus Qoyyum membagikan pedoman praktis dalam menyaring kehalalan suatu pemberian, yakni dengan menelusuri asal-usulnya hingga dua sampai tiga tahapan ke belakang: memastikan apakah harta tersebut halal, didapat dari mana oleh pihak pertama, bagaimana pihak pertama mendapatkannya dari pihak kedua, hingga dari mana pihak kedua memperolehnya dari pihak ketiga, dan seterusnya.
Selain soal wara’, Gus Qoyyum juga mengutip sanad dan khazanah keilmuan ulama Nusantara seperti Syekh Yasin Al-Fadani dan kitab Musnad al-Firdaus, sembari menekankan pentingnya menjaga husnul khatimah dalam pengabdian. Beliau memaparkan bahwa kata “hatta” (hingga/sampai) disebut sebanyak 142 kali di dalam Al-Qur’an. Salah satu “ayat hatta” yang penting untuk direnungi adalah ayat terakhir Surah Al-Hijr: Wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin (Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian).
“Ukuran kelulusan seorang hamba itu dilihat di akhir hayatnya. Beribadah dan mengabdi kepada Allah terus-menerus sampai ajal menjemput, itulah tanda lulus yang sesungguhnya,” pesan Gus Qoyyum yang disambut anggukan khusyuk para jamaah.
Suasana majelis semakin khidmat saat memasuki pembacaan manaqib (riwayat hidup dan perjuangan keilmuan) KH. Nawawi atau yang lebih dikenal dengan KH. Sholih Tsani, yang disampaikan oleh KH. Mudhofar Usman.
Dalam pemaparannya, KH. Mudhofar mengisahkan bagaimana masa kecil KH. Sholeh Tsani ditempa langsung oleh sang ayah, KH. Madyani (Abu Ishaq). Pendidikan dasarnya kemudian berlanjut di Pondok Sampurnan Qomaruddin di bawah asuhan Kyai Basyir dan Kyai Musthofa Sampurnan.
Menginjak usia dewasa pada umur 17 tahun, KH. Sholeh Tsani muda memulai rihlah (pengembaraan) keilmuannya keluar daerah.
Beliau tercatat nyantri kepada Kyai Muqoddas di Sembilangan selama dua tahun, kemudian berguru kepada Kyai Nidhamuddin dan Syekh Ammari di Kedung Madura, selama lima tahun.
Sekembalinya ke Sampurnan, ketokohan dan akhlak KH. Sholih Tsani membuat beliau diambil menantu oleh KH. Musthofa Sidayu dan diamanahi untuk menjadi pemangku pondok. Namun, karena sifat tawadhu yang begitu tinggi, KH. Sholih Tsani merasa ilmunya belum cukup untuk mengemban amanah besar tersebut. Beliau pun memilih kembali berangkat menimba ilmu kepada KH. Ismail di Petapan, Pamekasan, Madura, selama dua tahun.
Setelah kembali mengasuh pesantren, dahaga keilmuan beliau belum berhenti. Pada tahun 1286 H, KH. Sholih Tsani berangkat ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus bermukim menuntut ilmu. Di Haramain, beliau berguru langsung kepada ulama besar mazhab Syafi’i, yakni Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi, pengarang kitab I’anatuth Thalibin (Shahibul I’anah).
Rangkaian Peringatan Haul ke-128 KH. Sholih Tsani ini kemudian dipungkasi dengan pembacaan tahlil bersama, serta doa penutup yang diamini secara serentak oleh ribuan jamaah yang memadati bumi Sampurnan.






