Qomaruddin.com – Suasana khidmat dan penuh rasa takdzim menyelimuti Lapangan SMA Assa’adah pada Ahad (29/03/2026). Keluarga Besar Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Qomaruddin menggelar agenda tahunan Halalbihalal yang mempertemukan seluruh elemen perjuangan yayasan, mulai dari pengurus, guru, dosen Universitas Qomaruddin, staf unit, hingga para alumni.
Ketua Panitia, Ismail Marzuki, dalam sambutannya menganalogikan kebersamaan di YPP Qomaruddin layaknya sebuah taman. Kepala MI Assa’adah ini mengajak seluruh hadirin untuk terus merawat harmoni yang telah ada.
“Kebersamaan kita di YPP Qomaruddin ini ibarat sebuah taman. Jika tidak kita sirami dengan kebaikan, apalah jadinya tanaman itu. Mari kita sirami dengan kebaikan agar tumbuh indah dan memberi manfaat bagi banyak orang,” tutur Ismail dengan nada puitis namun sarat makna.
Berbeda dengan tahun lalu yang digelar di Glagah, Pedurungan, tahun ini Halalbihalal kembali ke “rumah” sendiri. Ketua YPP Qomaruddin, KH. Abdul Qodir, menjelaskan bahwa lokasi acara memang disepakati bergantian antara di luar dan di dalam lingkungan yayasan untuk menjaga kedekatan dengan berbagai wilayah.
Dalam kesempatan tersebut, KH. Abdul Qodir juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dalam pelayanan maupun fasilitas yayasan. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara yayasan dan alumni, terutama dalam penguatan pendidikan dan kemandirian ekonomi.
“YPP Qomaruddin selalu berusaha untuk semakin mandiri. Saat ini, kita bersyukur sudah memiliki unit usaha seperti Qoffmart & Cullinary sebagai penopang ekonomi organisasi,” imbuh sosok yang kerap disapa Kiai Anang .
Empat Kunci Kebahagiaan Dunia-Akhirat
Puncak acara diisi dengan mauidzah hasanah oleh Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. KH. Ali Mas’ud. Sosok yang juga alumni Pondok Qomaruddin ini membedah kitab Mustarul Al-Hadits yang pernah diijazahkan oleh Kiai Ishaq bin Abdurrahman. Beliau memaparkan empat perkara (Arba’atun man u’tiya hunna) yang menjadi kunci kebaikan dunia dan akhirat.
Pertama, Lidah yang senantiasa berdzikir (Lisanan Dzakiran). Prof. Ali Mas’ud menekankan kekuatan shalawat sebagai wasilah keajaiban hidup. “Sing penting shalawat,” tegasnya sembari berbagi kisah inspiratif. Kedua, Hati yang bersyukur (Qalban Syakiran), yakni menerima ketentuan Allah dengan lapang dada yang diwujudkan dengan peningkatan ibadah.
Ketiga, Tubuh yang sabar (Badanan ‘Ala-l Bala’i Shabiran), baik sabar dalam ketaatan, menjauhi maksiat, maupun saat menghadapi ujian sakit. Terakhir, beliau menutup dengan poin Istri yang shalihah (Zaujan Shalihan), yang mampu menjaga kehormatan keluarga.
“Laa jamilata illa zaujati (tidak ada yang lebih cantik kecuali istriku),” selorohnya yang langsung disambut tawa dan sorak-sorai hangat dari para hadirin.
Acara yang juga disiarkan secara live streaming di kanal YouTube Pondok Qomaruddin ini ditutup dengan pembacaan tahlil oleh KH. Ali Murtadlo dan doa pungkasan oleh Pemangku Pondok Qomaruddin, KH. M. Ala’uddin. Prosesi bersalam-salaman menjadi penutup yang manis, menandai kembalinya hati yang suci untuk melanjutkan pengabdian di bumi Qomaruddin.






