Gapura makam KH. Qomaruddin.

Mempertanyakan Tahun Berdirinya Pesantren Qomaruddin, Benarkah Tahun 1775?

Review Buku “Sedjarah Bungah dan Bergeloranja Pesantren Sampurnan

Qomaruddin.com – Dalam rangka Haul K. Qomaruddin (Mbah Qomaruddin), penulis, di sela-sela penulisan tesis, mencoba untuk urun ngerameni haul pendiri Pesantren Qomaruddin tahun ini. Pada tahun ini, Haul Mbah Qomaruddin di Sampurnan diadakan pada tanggal 11 Juli 2022/11 Dzulhijjah 1443. Haul Mbah Qomaruddin ini termasuk haul yang unik, karena haul beliau — sepengetahuan penulis– diadakan minimal di tiga tempat, yaitu di Sampurnan, Banaran, dan Kanugrahan. Pembahasan terkait haul-haul tersebut –-insyaallah— akan dibahas di tulisan selanjutnya, –mungkin tahun depan lah ya.

Ada satu buku lama yang berjudul “Sedjarah Bungah dan Bergeloranja Pesantren Sampurnan” yang ditulis pada tahun 1962. Buku kecil ini ditulis oleh Moh. Zainal S., selaku ‘Penilik’ Pendidikan Agama Cabang Gresik waktu itu. Buku setebal 14 halaman ini telah disetujui oleh ‘Penguasa’ Pesantren Sampurnan pada masa itu, yaitu K. Moh. Sholih Musthofa (Tsalis). Di dalamnya, terdapat pembahasan tentang sejarah Kiai Gede Bungah, Mbah Qomaruddin, K. Harun (Sholih Awwal), K Musthofa (Misbah), dan Mbah Sholeh Tsani.

Di dalam buku tipis ini, dikisahkan bahwa awal mula Mbah Qomaruddin bermukim di Sampurnan adalah atas permintaan Tumenggung Gresik Tirtorejo agar menjadi ‘kehakimannya’, atau semacam qadli bagi kadipaten. Selain diminta sebagai kehakiman, Mbah Qomaruddin juga diminta untuk ‘menghapus’ keangkeran tanah Bunguh (nama Desa Bungah pada saat itu, yang seringkali penulis dengar penyebutannya dari orang-orang tua sekarang).

Sebagaimana kisah-kisah zaman dulu yang disertai dengan unsur-unsur mistisnya agar masyarakat antusias mendengarkannya, buku ini juga mengikuti pola tersebut dalam mengisahkan kemunculan jublang (kolam) di dalam pondok. Pada waktu Mbah Qomaruddin hendak mengambil air untuk mandi dan wudlu di Bengawan Solo, beliau diminta seekor ‘buaya’ agar tidak mengambil air di sungai tersebut. Karena, ‘hewan-hewan’ di dalamnya akan mati semua akibat kehadiran Mbah Qomaruddin. Akhirnya, beliau berdoa dan minta petunjuk atas peristiwa itu, dan kemudian muncul jublang di pondok serta sumur di ndalem beliau sebagai sumber air pengganti Bengawan Solo.

Setelah kebutuhan air tercukupi, Mbah Qomaruddin mendirikan Langgar Agung sekitar tahun 1715 dan membangun rumah (ndalem) — kurang lebih– pada tahun 1716. Ndalem tersebut digunakan Mbah Qomaruddin untuk mengadili perkara dan mengatur urusan-urusan pemerintahan yang dikeluarkan Tumenggung Tirtorejo. Kemudian, pada tahun 1757, ndalem dijadikan rumah wakaf yang digunakan sebagai tempat tinggal (rumah dinas) pengasuh pesantren Qomaruddin hingga saat ini. Jika mengarah pada data ini, maka Pesantren Qomaruddin berdiri pada tahun 1715, bersamaan dengan berdirinya Langgar Agung, cukup jauh dengan data masyhur tentang berdirinya pesantren ini, yakni pada tahun 1775.

Pada sekitar tahun tersebut bisa dipastikan bahwa berdirinya langgar tersebut adalah dalam rangka mendirikan pesantren. Karena pada tahun 1717, para santri –salah satu unsur pesantren– Mbah Qomaruddin sudah diperintahkan untuk melanjutkan ‘penghapusan’ tanah angker sampai ke tanah Gembus. Kisah mistis dalam buku ini berlanjut di sini. Dalam menjalankan perintah gurunya, para santri yang tiba-tiba merasa sangat haus memanjatkan doa, dan kemudian muncul sebuah jublang lagi di daerah Nongkokerep. Jublang tersebut hingga kini masih ada, dan terletak di depan Langgar Darussalamah Nongkokerep.

Kisah Mbah Qomaruddin diakhiri dengan pemilihan nama “Sampurnan” sebagai nama pesantren. Nama tersebut dipilih sebagai tanda bahwa Mbah Qomaruddin telah selesai dan sempurna dalam menjalankan tugasnya di Bunguh. Beliau wafat pada tahun 1757 dan dimakamkan di belakang Langgar Agung.

Data pendirian Langgar Agung tahun 1715 dan kewafatan Mbah Qomaruddin pada tahun 1757 cukup jauh berbeda dengan kemasyhuran informasi berdirinya Pesantren Qomaruddin pada tahun 1775. Meski buku ini ditulis oleh orang yang ‘kurang dikenal’, tetapi K. Sholih Musthofa memberikan persetujuan atas penulisan buku ini, yang menjadikan data di dalamnya terasa lebih kuat.

Terkait data tahun wafat Mbah Qomaruddin, sejarah lisan yang sering penulis dengar yang ditunjang dengan catatan manuskrip tulisan K. Abdurrahman, mengisahkan bahwa Tumenggung Tirtorejo meminta agar Mbah Qomaruddin dimakamkan di sekitar Gresik, tetapi Ny. Kabsah menolak permintaan tersebut berdasarkan wasiat Mbah Qomaruddin, agar beliau dimakamkan di Sampurnan, di belakang Langgar Agung.

Hal ini berarti wafat Mbah Qomaruddin lebih dulu daripada wafat Tumenggung Tirtorejo. Sementara berdasarkan data para Bupati Gresik, Tumenggung Tirtorejo menjabat sejak tahun 1748-1765. Penulis belum tahu apakah data tahun 1765 tersebut menunjukkan tahun wafat sang bupati ataukah sekedar batas akhir masa jabatan. Jika tahun 1765 diasumsikan sebagai tahun wafat Tumenggung Tirtorejo, maka berdasarkan kisat wafat sebelumnya, tahun berdirinya Pesantren Qomaruddin tentunya lebih tua dari tahun 1775.

Tentang kapan tahun berdirinya Pesantren Qomaruddin sebenarnya? Biarkan waktu dan Tim Sejarah Pondok Pesantren Qomaruddin yang menjawabnya. Penulis di sini hanya bertugas me-review buku kecil, tipis, dan tua ini saja. Bagi pembaca yang mempunyai kritik, koreksi, atau paidoan atas tulisan singkat ini, silahkan sampaikan langsung pada penulis. Nggak usah sungkan, padane opo ae.

1 thought on “Mempertanyakan Tahun Berdirinya Pesantren Qomaruddin, Benarkah Tahun 1775?”

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top