Ngaji Burdah; Sebuah Pengantar Ngaji Mingguan

| |

Qomaruddin.com – Kali ini, saya membuat tulisan tentang Qasidah Burdah untuk mengisi kekosongan waktu dan menyumbang tulisan di website ini. Tulisan tentang Qasidah Burdah ini akan saya mulai dengan sejarah Qasidah Burdah hingga akhir bait Burdah. Total keseluruhan isi Burdah al-Busiri berjumlah 160 bait yang terbagi menjadi 10 pasal. Insyaallah, tulisan ini akan hadir rutin tiap minggu atau dua minggu sekali pada hari Kamis atau Jumat.

Pengarang Qasidah Burdah adalah seorang penyair yang lahir di desa Busair, Mesir. Beliau bernama Syaraf al-Dīn Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Sa‘īd al-Būṣīrī. Al-Busiri dilahirkan pada tahun 608 H/1213 M. Al-Busiri adalah penghafal Alquran dan seorang penyair kerajaan yang terkenal dan pernah melanglang buana ke berbagai pelosok daerah.

Suatu saat, al-Busiri mengalami sakit lumpuh semacam stroke selama satu bulan. Ketika sakit, al-Busiri bermimpi bertemu Nabi Muhammad. Bangun tidur pasca mimpi tersebut, al-Busiri tergerak untuk membuat syair pujian pada Nabi dengan mengharap syafaatnya. Dalam rentang waktu seminggu, syair tersebut akhirnya selesai dan al-Busiri kembali bermimpi bertemu Nabi. Dalam mimpi tersebut, Nabi meminta al-Busiri untuk membacakannya di hadapan beliau.

Setelah syair tersebut dibacakan seluruhnya, raut muka Nabi nampak senang dan tersenyum. Kemudian Nabi mengusap badan al-Busiri dan menghadiahkannya sebuah burdah. Lantas seketika itu penyakit yang diderita al-Busiri sembuh. Al-Busiri memberi nama syair tersebut dengan nama al-Kawākib al-Durriyyah fī Madḥi Khair al-Bariyyah, atau yang lebih dikenal dengan nama Qaṣīdah Burdah sebab peristiwa yang dialami pengarangnya.   

Al-Busiri adalah santri Abū al-‘Abbās al-Mursī. Abū al-‘Abbās al-Mursī adalah santri Abū al-Ḥasan al-Syāżilī, pendiri tarekat Syāżiliyyah. Abū al-Ḥasan al-Syāżilī merupakan santri ‘Abd al-Salām ibn Masyīsy, pengarang salawat Masyīsyiyyah. ‘Abd al-Salām ibn Masyīsy adalah santri Abū Madyan Syu‘aib al-Gauṡ, tokoh sufi dari Andalusia. Jadi, al-Būṣīrī merupakan teman seperguruan Ibn Aṭā‘ Allāh al-Sakandarī, pengarang kitab al-Ḥikam. Al-Būṣīrī meninggal pada tahun 696 H/1295 M dan dimakamkan di Iskandaria, Mesir.

Para ulama sepakat bahwa Qasidah Burdah al-Busiri adalah syair pujian pada Nabi terbaik kedua. Peraih puncak klasemen adalah syair karya sahabat Nabi yang bernama Ka‘b ibn Zuhair yang bernama Bānat Su‘ād, Qasidah Burdah yang pertama kali dikenal.

Ka‘b ibn Zuhair ibn Abī Salmā adalah seorang penyair, putra penyair, dan cucu penyair terkenal. Ia sempat memusuhi Nabi. Tidak heran jika Ka‘b pada mulanya dikenal sebagai pembuat syair yang mencaci-maki Nabi. Syair cacian karya Ka‘b ini sempat viral dan banyak dihafal oleh anak-anak kecil.

Suatu saat, seorang sahabat meminta izin pada Nabi untuk mencari dan membunuh Ka‘b. Yang mengejutkan adalah Nabi mengizinkannya. Beberapa sahabat keheranan dengan sikap Nabi ini, karena beliau biasanya melarang adanya kekerasan dan pembalasan dendam. Namun, tidak ada sahabat yang berani menganggapinya.

Setelah mendengar kabar bahwa dirinya adalah seorang DPO, Ka‘b ketakutan dan menemui kakanya yang bernama Bujair yang telah terlebih dahulu memeluk Islam. Sebelumya, Ka‘b mengecam kakaknya yang telah meninggalkan agama leluhurnya. Bujair lalu menyarankan pada Ka‘b yang ketakutan itu untuk langsung menemui Nabi. Bujair mengatakan bahwa seberapa besarpun dosanya, Nabi pasti memaafkannya.

Subuh keesokan harinya, Ka‘b datang ke Madinah dengan niat menemui dan meminta maaf pada Nabi. Sebenarnya Ka‘b memiliki banyak teman di Madinah. Kawan-kawan karibnya yang telah lebih dahulu masuk Islam sudah hidup di sana. Namun Ketika diajak Ka‘b untuk bertemu Nabi, mereka menolak, semuanya. Mereka tahu Nabi sedang melanggar kebiasannya. Muhammad yang sangat menentang kekerasan kini memberi izin untuk membunuh Ka‘b. Akhirnya Ka‘b nekat maju sendiri menemui Nabi. Dia telah siap menghadapi resiko apapun, bahkan jika harus mati.

Ka‘b akhirnya bertemu dengan Nabi setelah beliau memimpin salat subuh. Nabi memandangnya, menyapanya dan menjabat tangannya. Ka‘b kemudian menyatakan tujuannya untuk meminta maaf pada Nabi. Untuk mendapatkan penerimaan lebih, ia juga ingin membacakan syair pujian karyanya. Setelah membacakan seluruh syair itu, 55 bait, Nabi senang dan rida mendengarkan pujiannya. Nabi kemudian memberikan hadiah selimut yang sedang beliau pakai. Satu jenis selimut yang dikenal dengan nama burdah. Burdah pemberian Nabi ini masih ada dan tersimpan di museum Topkapi, Istanbul, Turki.

Ada kemiripan antara kisah yang dialami sahabat Ka‘b ibn Zuhair dan al-Busiri. Mereka berdua sama-sama mendapatkan hadiah burdah dari Nabi. Kisah tersebut menunjukkan bahwa shalawat pada Nabi termasuk dalam kategori sunnah taqrīriyyah, karena Nabi tidak memerintahkan dan beliau menyetujuinya.

Dalam skala global, Qasidah Burdah dibaca dalam perayaan hari kelahiran (maulid) Nabi. Ini agak berbeda dengan di Indonesia yang dalam merayakan maulid lebih sering membaca Maulid al-Dība‘ī, Barzanjī, atau Simṭud-durar. Burdah di Indonesia malah lebih sering dibaca menjelang salat jenazah sambil menunggu datangnya jamaah. Ada juga yang membacanya rutin, bisa mingguan, bulanan, atau hitungan reguler lainnya. Langgar al-Hidayah di desa saya, Manyar, Gresik, termasuk yang membacanya mingguan, tepatnya tiap malam Jumat.

Jika kita lihat, dan mungkin ini karena sejarah Qasidah Burdah dan kisah-kisah keistimewaannya, kiai-kiai Jawa sering menggunakan Qasidah Burdah ini sebagai wirid dan penyembuhan diri. Ada juga menyebut Qasidah Burdah dengan nama Bur’ah yang berarti sembuh (merujuk pada kisah al-Busiri). Tidak sedikit juga kiai yang menghafalkan Qasidah Burdah. Di antaranya adalah K.H. Maksum Ahmad Lasem (Mbah Sum, pendiri jamiah Nahdlatul Ulama) serta putranya, K.H. Ali Maksum Krapyak (Mbah Ali, Rais `Aam PBNU 1980-1984) yang sering membacanya ketika lagi santai. K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan K.H. Said Aqil Siroj (Kiai Said) yang merupakan santri Mbah Ali, begitu juga K.H. Hilmy Muhammad (Gus Hilmy Krapyak), cucu Mbah Ali, agaknya tertular kebiasaan ngiyai ini. Hari-hari ini, ngaji Burdah yang diampu oleh beliau bertiga bahkan termasuk yang paling diminati.

Tulisan ini (yang insya Allah akan berseri) adalah hasil rangkuman ngaji online saya dari tiga tokoh NU ini; Gus Mus, Kiai Said, dan Gus Hilmy Krapyak. Kiprah dan penguasaan pengetahuan beliau bertiga mungkin menjadi faktor banyaknya santri ngaji Burdah ini. Gus Mus merupakan Rais `Aam PBNU 2014-2015. Beliau juga dikenal sebagai kiai yang juga ahli sastra Arab. Qasidah Burdah ini termasuk karya sastra yang merupakan ranah beliau. Kiai Said, Ketua Umum PBNU 2010-sekarang, adalah seorang yang ahli di bidang sejarah dan tasawuf. Beliau juga banyak hafal syair-syair Arab yang biasa dibaca maupun yang jarang dipelajari di kalangan pesantren. Gus Hilmy yang merupakan guru saya di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, adalah cucu dari Mbah Ali yang nitis beliau.

Semoga bi-wasīlati tulisan ini penulis dan juga pembaca bisa kecipratan berkah beliau-beliau dan diberi izin untuk gandolan sarunge poro kiai. Wallahu A`lam.

Previous

Kafir Kok Istigfār!

Leave a Comment