Obituari Kiai Iklil Sholih: Sang Kiai dan Ahli Fiqh Sampurnan

Avatar

Agil Muhammad

Qomaruddin.com Malam itu, di Krapyak, pada pertengahan musyawarah kitab Fath al-Muin, saya mendapatkan notif WA dari Abah saya yang mengabarkan bahwa guru kami, kiai kami, Kiai Moh. Iklil Sholih telah menyelesaikan tugasnya di dunia dan meninggalkan kita semua. Kabar duka ini muncul tidak lama setelah Pesantren Qomaruddin mendapatkan penghargaan dari PBNU sebagai salah satu pesantren yang berusia lebih dari satu abad.

K.H. Moh. Iklil Sholih lahir di Gresik, 18 Juni 1958 (64), beliau biasa dipanggil “Gus Mad”, “Pak Iklil”, atau “Kiai Iklil”. Beliau putra dari pasangan K.H. Sholih Musthofa (Tsalis) dan Ny. Khodijah. Dari jalur bapak, beliau merupakan cucu dari K.H. Musthofa Kranji, sementara dari jalur ibu, beliau merupakan cucu dari K.H. Ismail Sampurnan, pengasuh Pesantren Qomaruddin keenam.

Kiai Iklil didapuk sebagai pengasuh Pesantren Qomaruddin kesembilan menggantikan kakaknya, K.H.R. Ahmad Muhammad Al-Hammad melalui musyawarah keluarga. Tradisi di Sampurnan, musyawarah penentuan penerus kepengasuhan pesantren biasanya diadakan di ndalem sebelum jenazah pengasuh sebelumnya dikebumikan. Peserta yang menghadiri musyawarah merupakan perwakilan dari semua bani putra-putri K.H. Sholeh Tsani.

Para kerabat dan santri merasa kehilangan atas kepulangan kiai yang dikenal tekun dalam mendidik santri dalam ngaji dan jama’ah. Kiai Iklil biasanya langsung turun tangan dalam menghadapi santri yang tidak ngaji dan sholat berjamaah.

Sudah masyhur, bahwa Kiai Iklil langsung mendatangi santi ke kamarnya ketika santri tersebut jarang mengikuti pengajian pagi, juga ‘mengeksekusi’ langsung para santri yang tidak membaca wiridan sholat secara jahr. Kami sebagai santri tentu saja memahami bahwa tindakan langsung beliau pada santri merupakan bentuk pendidikan, kepedulian, dan kasih sayang pada kami. Bahkan, banyak di antara kami yang merasa bersyukur pernah dihukum langsung oleh Kiai Iklil.

Terlahir dari keluarga kiai, beliau dikader oleh ayahnya untuk meneruskan pengabdian dalam menjaga Pesantren Qomaruddin ini. Tradisi pesantren yang mengharuskan para santri mempunyai sanad keilmuan, mendorong Kiai Iklil untuk belajar pada ulama yang mempunyai transmisi sanad keilmuan yang muttasil hingga Rasulullah saw.

Pada fase pertama rihlah ilmiah, beliau nampak fokus berguru pada ulama spesialis al-Quran, yakni pada K.H. Said Mu’in Ngaren, K.H Umar Abdul Mannan Solo, dan K.H Arwani Amin Kudus.

Beliau terkesan tidak menampakkan keahlian al-Quran-nya. Meski ketika saya pertama kali sowan ke alm. K.H.R. Najib Abdul Qodir Krapyak -yang merupakan ulama spesialis al-Quran-, beliau menanyakan pada saya tentang kabar “Gus Iklil” sambil menitipkan salam padanya. Dan, yang saya ingat dari nama-nama yang disebutkan oleh Yai Najib, mereka semua merupakan kiai yang memfokuskan diri pada pembelajaran al-Quran, termasuk pakde saya alm. K. Amanullah dan K. Muhaimin Ali, sepupu Abah saya.

Pada fase kedua rihlah ilmiahnya, Kiai Iklil nampak fokus pada fiqh dan ushul fiqh, -yang pada akhirnya beliau lebih dikenal ahli dalam kedua ilmu ini-, yakni pada K.H. Dimyati Rois Kaliwungu, K.H. Romli Kaliwungu, K.H. Jalal Kendal, juga pada K.H. Nashiruddin Senori.

Bagi kami, para santri dan masyarakat Sampurnan, Kiai Iklil dikenal sebagai ahli dalam bidang fiqh. Beliau mengajar kami ilmu fiqh di MA Assa’adah dan kitab Lataif al-Isyarah di Madrasah Diniyah Qomaruddin. Kepakaran Kiai Iklil dalam bidang fiqh bisa dibaca dari sepak terjangnya di forum Lajnah Bahtsul Masail, lembaga yang memfasilitasi dan menguji intelektual santri, khususnya dalam bidang fiqh. Kiai Iklil aktif dalam LBM baik dari tingkat MWCNU maupun PCNU hingga beliau dijadikan sebagai Mustasyar PCNU Gresik dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Gresik.

Sebagai pengasuh Pesantren Qomaruddin, Kiai Iklil juga melanjutkan tradisi ngaji Ahad pagi bagi masyarakat umum yang telah berlangsung sejak masa K.H. Sholeh Tsani. Bedanya, pada masa K.H Sholeh Tsani hingga K.H. Sholeh Musthofa (Tsalis), pengajian rutin dilakukan pada pasaran Legi, yang kemudian pada masa K.H.R. Ahmad Muhammad Al-Hammad diganti pada hari Ahad, menyesuaikan kondisi yang berubah pada masa itu.

Guna menjalin kedekatan alumni Qomaruddin, beliau seringkali menyempatkan diri untuk mengikuti rutinan pembacaan Rotibul Haddad yang diadakan di rumah-rumah alumni wilayah Gresik dan sekitarnya. Bahkan, pada Haul K.H. Sholeh Tsani kemarin beliau memberikan ijazah kubro terakhir berupa wirid Rotibul Haddad yang biasa dibaca di Sampurnan agar diamalkan dan dibaca para alumni setiap hari, sebisanya.

Menurut penuturan Hasan Mahfudh, Kiai Iklil pernah ngendikan, “Nek dibandingno Yai Mad biyen, aku iki yoh gak onok apa-apane, yoh ilmu yoh amale. Loh, aku iki temenan. Yai Mad nek shalat, terutama sedekah.. wes ta lah.. gak kenek dibandingno. Ngunu iku loh mbiyen Yai Mad yo ngomong: nek dibandingno Abah (Yai Sholeh Musthofa) aku iki gak onok opo-opone. Terus Abah dewe sanjang, Mbah Mail iku alim amaliyah luar biyasa. Aku iki adoh. Tapi seng tak titeni hampir kabeh ki wonge seneng“

(Kalau dibandingkan Yai Mad dulu, saya ini tidak ada apa-apanya, ilmu dan amalnya. Saya ini beneran. Yai Mad nek Shalat, terutama Sedekah, sudah lah tidak dapat dibandingkan. Meski begitu, Yai Mad bilang: Kalau dibandingkan Ayah {Yai Sholeh Musthofa} saya ini tidak ada apa-apanya. Kemudian dulu Ayah juga cerita: Mbah Mail itu alim amaliyahnya luar biyasa. Saya jauh. Tapi yang saya ingat, semuanya cinta). Ungkapan ini begitu masyhur di kalangan kami, para santri, yang membuktikan ketawaduan beliau.

Bentuk tawaduk beliau memang benar-benar disadari, bukan diada-adakan sebagaimana kebiasaan kita pada umumnya, sebagaimana qaul ulama yang menyatakan, “Man atsbata li nafsihi tawadu’an fahuwa al-mutakabbir”, yang mempunyai arti “Barang siapa yang menetapkan dirinya sebagai orang tawaduk, maka dia adalah orang yang sombong”.

Kita semua kehilangan. Benar-benar kehilangan sosok teladan yang mengabdikan diri sepenuhnya pada Pesantren Qomaruddin, yang telaten mendidik santri sejak bangun pagi hingga sebelum tidur malam. Sugeng tindak Kiai Iklil, murabbi al-ruh kami. Lahu al-fatihah.

Artikel Terkait

Tags

Leave a Comment