HomeArtikel“Menilik” Gerhana Bulan Pada Masa Rasulullah SAW

“Menilik” Gerhana Bulan Pada Masa Rasulullah SAW

Artikel 0 2 likes 355 views share

qomaruddin.com – Di penghujung bulan Januari tahun ini, penduduk Indonesia pada umumnya –dan umat Islam pada khususnya- akan menyaksikan fenomena alam langka, yakni gerhana bulan total. Peristiwa gerhana bulan tersebut semakin menarik, sebab bebarengan dengan tiga fenomena alam lainnya. Supermoon, blue moon, dan blood moon akan terakumulasi dalam momen gerhana bulan yang –kebetulan- bertepatan dengan hari lahir Nahdlatul Ulama versi masehi yang ke-92. Maka tidak heran jika fenomena alam langka yang terakhir kali muncul 152 tahun silam ini masyhur dengan nama “super blue blood moon”.

Bagi umat Islam, momen gerhana bulan bukan hanya sekedar momen alamiah saja. Pada momen tersebut, umat Islam disunnahkan untuk melakukan sholat gerhana bulan. Selain sholat, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak melakukan berbagai kebaikan, utamanya beristighar, berdoa, dan bersedekah. Tapi, pernahkah kita tahu bagaimana gerhana bulan di masa Rasulullah Saw? Tulisan ini akan memberikan gambaran bagaimana peristiwa gerhana bulan di masa Rasulullah.

Berdasarkan hasil penelitian Ahmad Ghazali Fathullah dalam kitabnya yang berjudul “Irsyad al-Murid” bahwa dalam rentang waktu sepuluh tahun sejak Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah tahun 622 M hingga Rasulullah Saw. wafat pada tahun 632 M, terdapat 8 kali peristiwa gerhana bulan, dengan rincian sebagai berikut:

Ket: Waktu di atas didasarkan pada waktu Madinah saat Rasulullah Saw. hidup. Data diambil dari kitab “Irsyad al-Murid” karya Ahmad Ghazali Fathullah.

Ket: Waktu di atas didasarkan pada waktu Madinah saat Rasulullah Saw. hidup. Data diambil dari kitab “Irsyad al-Murid” karya Ahmad Ghazali Fathullah.

Pernyataan berbeda disampaikan oleh para ahli fikih dan ahli hadis. Menurut mereka, peristiwa gerhana bulan hanya terjadi sekali pada masa Rasulullah, yaitu peristiwa gerhana bulan yang menandai awal disyariatkannya sholat gerhana. Ibnu Hibban menghitung bahwa gerhana bulan yang dimaksud oleh Ahli fikih dan ahli hadis tersebut terjadi pada tahun ke-5 hijriah. Sedangkan menurut para ahli astronomi, tahun yang dimaksud bukanlah tahun ke-5 H, melainkan tahun ke-4 H.  Tahun tersebut, menurut Ibnu Hibban, merupakan tahun pertama sholat gerhana dilakukan dalam Islam.

Bagi Ahmad Ghazali Fathullah, pendapat yang mengatakan bahwa gerhana bulan hanya terjadi sekali pada masa Rasulullah Saw memang tidak salah, jika yang dimaksud gerhana bulan adalah momen di mana Rasulullah Saw sholat gerhana. Sebab sebelum tahun 5 -atau 4 H versi ahli hisab- bertepatan pada tanggal 20 November 625 M, sholat gerhana belum ada. Namun secara astronomi, gerhana yang terjadi pada tahun ke-5 H tersebut adalah gerhana kelima sejak Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah. Wajar jika para ahli fikih dan hadis tidak memperhitungkan 4 gerhana bulan yang terjadi sebelum itu, karena belum ada anjuran melakukan sholat gerhana bulan. Lantas bagaimana dengan gerhana bulan yang terjadi setelah itu? Bukankah masih ada 3 peristiwa gerhana bulan lagi?

Menurut Ahmad Ghazali Fathullah, alasan mengapa setelah itu tidak dilakukan sholat gerhana bulan lagi adalah karena gerhana bulan yang terjadi setelah itu adalah gerhana bulan parsial yang sulit terlihat kecuali di akhir fase gerhana. Atau kalaupun gerhana bulan total, itu terjadi pada pertengahan malam dengan adanya kemungkinan terselimuti oleh mendung, sehingga sulit untuk terlihat fase gerhananya.

ditulis oleh: M. Afif Yuniarto, S.H.I., M. Ag

Alumnus Yayasan Pondok Pesantren Qomaruddin yang menyeleseikan studi nya di UIN Sunan Ampel Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *