HomeArtikelKritik KH. M. Sholih Musthofa Terhadap Ajaran Muhammad Bin Abdul Wahab
Kritik KH. M. Sholih Musthofa Terhadap Ajaran Muhammad Bin Abdul Wahab

Kritik KH. M. Sholih Musthofa Terhadap Ajaran Muhammad Bin Abdul Wahab

Artikel 0 0 likes 38 views share

qomaruddin.com – Kritik KH. M. Sholih Musthofa Terhadap Ajaran Muhammad Bin Abdul Wahab – KH. M. Sholih Musthofa merupakan pengasuh Pondok Pesantren Qomaruddin yang ke-7. Beliau memangku Pondok yang berlokasi di Sampurnan ini sejak tahun 1948 hingga tahun 1982. Semasa hidupnya, KH. M. Sholih Musthofa merupakan kyai yang amat disegani baik di elite pemerintahan maupun di kalangan umat Islam utamanya di wilayah Gresik. Beliau juga aktif dalam kegiatan Bahtsul Masail yang diadakan ormas Nahdlatul Ulama (NU) di beberapa tingkatan. Sebagai tokoh NU yang dihormati, beliau juga aktif mempertahankan ajaran-ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang dibawa oleh para ulama terdahulu. Hal ini salah satunya dapat diketahui dari catatan tangan beliau yang berhasil ditemukan oleh Tim Manuskrip Qomaruddin di lemari pondok peninggalan beliau.

Manuskrip Tulisan Tangan KH. M. Sholih Musthofa
Tim Manuskrip Qomaruddin berhasil menemukan buku catatan yang diyakini sebagai buku catatan KH. M. Sholih Musthofa. Setelah ditelaah, tim menemukan salah satu lembar catatan yang berisi tentang kritik beliau terhadap ajaran Muhammad bin Abdul Wahab; tokoh yang menjadi cikal bakal munculnya ajaran Wahabi. Adapun poin penting ajaran yang dikritik oleh KH. M. Sholih Musthofa atas Muhammad bin Abdul Wahab dalam catatan tersebut adalah tentang shalawat nabi dan karomah para wali yang diingkari oleh Muhammad bin Abdul Wahab.

KH. M. Sholih Musthofa yang oleh masyarakat Bungah dan sekitarnya masyhur dengan nama KH. M. Sholih Tsalits ini memulai kritik beliau dengan menyajikan biografi singkat Muhammad bin Abdul Wahab. Menurut beliau, tanda-tanda kesesatan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir tahun 1111 H ini sudah tercium sejak awal oleh ayahandanya sendiri; Syekh Abdul Wahab. Bahkan Syekh Abdul Wahab yang dikenal sebagai ulama terkemuka bermazhab Syafi’i tersebut telah memprediksi bahwa di masa yang akan datang anaknya yang bernama Muhammad bin Abdul Wahab tersebut akan menimbulkan kerusakan dari ajaran-ajaran yang dibawanya. Hal inilah yang membuat Syekh Abdul Wahab murka kepada anaknya itu.

Di antara keburukan Muhammad bin Abdul Wahab adalah kritiknya terhadap sosok Nabi Muhammad. Beberapa kali ia merendahkan Nabi Muhammad dengan ungkapan yang bermacam-macam. Padahal menurut pendapat empat mazhab yang mu’tabar, merendahkan Nabi Muhammad merupakan perbuatan yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam kekufuran. Muhammad bin Abdul Wahab juga memakruhkan orang bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Ia tidak suka mendengar shalawat nabi, bahkan melarang orang mengeraskan bacaan shalawat nabi. Atas dasar itulah Muhammad bin Abdul Wahab membakar kitab Dalalilul Khairat dan kitab-kitab shalawat lainnya dengan dalih bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan bid’ah. Selain itu, Muhammad bin Abdul Wahab juga mengingkari adanya karamah yang dimiliki oleh para wali. Pada poin inilah kemudian KH. M. Sholih Musthofa menanggapi ajaran sesat Muhammad bin Abdul Wahab. Beliau menyampaikan dalil-dalil baik dari al-Qur’an, al-Sunnah, maupun dari pendapat-pendapat para ulama.

Mengutip pendapat sebagian ulama, di antaranya pendapat Imam al-Haramain, KH. M. Sholih Musthofa mengatakan bahwa mengingkari karomah yang dimiliki oleh para wali merupakan suatu kekufuran. Sedangkan menurut sebagian ulama yang lain, perbuatan tersebut merupakan perbuatan dosa besar. Adapun dalil-dalil yang dikemukakan oleh KH. M. Sholih Musthofa untuk menyanggah kekeliruan ajaran Muhammad bin Abdul Wahab adalah:

  1. Kisah Maryam binti ‘Imran dalam al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 37. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa meskipun Maryam binti ‘Imran tidak keluar kemanapun dan hanya berdiam di mihrab, namun ia selalu dikelilingi makanan yang tergolong langka. Misalnya buah-buahan yang semestinya hanya berbuah di musim panas, namun tersedia di sisi Maryam binti ‘Imran saat musim dingin. Demikian juga buah-buah yang semestinya berbuah di musim dingin, namun dapat dinikmati oleh Maryam di musim panas.
  2. Kisah Maryam saat mengandung Nabi Isa yang dapat merontokkan buah kurma dari pohonnya hanya dengan menggoyangkan pangkal pohonnya. Hal ini sebagaimana disampaikan dalam surat Maryam ayat 25.
  3. Kisah Ashif bin Barkhiya yang memindahkan istana ratu Balqis atas perintah Nabi Sulaiman hanya dalam waktu sekedipan mata, padahal jarak istana tersebut jika ditempuh dengan perjalanan kaki dapat menempuh waktu lebih dari satu bulan. Hal ini sebagaimana tersurat dala al-Quran surat al-Naml ayat 40.

Selain ketiga kisah tersebut, sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah yang menyiratkan adanya karomah para wali. Dan yang perlu diperhatikan bahwa tokoh-tokoh sebagaimana disampaikan dalam kisah tersebut semuanya bukanlah nabi, melainkan para wali kekasih Allah Swt. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya karomah para wali itu ada.

KH. M. Sholih Musthofa juga memperkuat argumennya dengan menyampaikan beberapa hadis dan khabar yang juga menyiratkan kisah serupa. Di antaranya hadis sahih yang termuat dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim tentang kisah Juraij yang bisa berbicara dengan bayi dan bayi itu mampu menjawab pertanyaan Juraij, khabar tentang Abu Bakar saat menjamu tamu-tamunya di mana saat tamunya itu memakan hidangan yang disediakan Abu Bakar maka makanan tersebut tidak berkurang melainkan bertambah berkali lipat, dan kisah khutbah Umar bin Khattab yang dapat didengar oleh Sariyah yang berada di Persia padahal ketika itu ‘Umar bin Khattab sedang berkhutbah di Madinah.

Semua dalil yang disampaikan oleh KH. M. Shalih Musthofa di atas merupakan bukti bahwa karamah para wali memang benar-benar ada. Sehubungan dengan hal itu, maka keyakinan Muhammad bin Abdul Wahab yang mengingkari karomah yang dimiliki para wali adalah ajaran yang tidak dapat dibenarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *