Ketika Informasi Menjadi Murah, Apa yang Terjadi pada Ilmu?

Qomaruddin Media

Qomaruddin Media

Ketika Informasi Menjadi Murah, Apa yang Terjadi pada Ilmu?

Kiwari, orang tak perlu tahu untuk mendapat jawaban.

Suatu senja, seorang santri bertanya kepada kiainya. “Yai, apa hukum persoalan ini?” Sang kiai membuka kitab. Mungkin kitab itu sudah lusuh. Kusut terlalu banyak dibolak-balik. Pinggir halamannya penuh syah-syahan (catatan) kecil. Ada kode atau tinanda yang hanya dimengerti olehnya, orang yang tekun, sabar, istikamah bertahun-tahun membaca kitab tersebut.

Sang kiai membolak-balik halaman, membaca beberapa baris, lalu diam sebentar. Kemudian Sang kiai menjelaskan. Perlahan. Prosesnya mungkin memerlukan beberapa menit. Kadang setengah jam. Kadang sebuah pertanyaan sederhana justru membawa santri dan kiai itu kepada pembahasan yang panjang. Dan diakhiri wallahu a’lam.

Suatu malam, saat seorang kiai sorogan membaca kitab, sang kiai kesulitan menemukan arti atau terjemahan sebuah kata, entah lupa atau memang tidak tahu. “PR yo, besok diingatkan. Kulo kesupen, mboten semerap artinipun.” Santri mencatat, dan besoknya mengingatkan dan menagihnya.

Hari ini, adegan semacam itu bisa berlangsung dengan cara yang sangat berbeda. Santri mengetik pertanyaan. Atau menanyakan arti suatu lema, beberapa detik kemudian, sebuah jawaban muncul. Rapi. Panjang. Meyakinkan. Bahkan mungkin disertai kutipan hadits, kutipan kitab, terjemahan, pendapat beberapa ulama, perbandingan madzhab, dan kesimpulan.

Selesai. Tanpa PR. Hitungan DETIK. Tetapi benarkah selesai? Barangkali justru di situlah sebuah persoalan baru dimulai.

*

Kita sedang memasuki zaman yang aneh.

Sependek pengetahuan saya, belum pernah dalam sejarah manusia informasi tersedia semurah sekarang. Sebuah kitab yang dahulu harus dicari berhari-hari, mungkin sekarang dapat ditemukan dalam beberapa detik. Sebuah istilah yang dahulu harus ditanyakan kepada guru, kiai atau dicari di perpustakaan, kini dapat dicari melalui mesin pencari.

Kemudian datanglah artificial intelligence, kecerdasan buatan. Ia bukan sekadar menemukan informasi. Ia dapat membaca, merangkum, menerjemahkan, membandingkan, menjelaskan, dan menyusun kembali informasi itu dalam bahasa yang kita inginkan. Lebih canggih lagi, chatbox.

Terkini, kita sudah berhadapan dengan AI Agent: sistem yang bukan hanya menunggu pertanyaan, tetapi dapat melakukan serangkaian pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan. Kita mungkin akan mengetik: “Tolong cari seluruh pembahasan tentang persoalan ini dalam kitab-kitab fikih.”

Mesin lalu akan bekerja. Ia mencari. Membaca. Membandingkan. Mengelompokkan. Menyusun. Hitungan DETIK, akan muncul kumpulan penjelasan, informasi atau ‘teks’ yang tampak seperti pengetahuan. GRATIS.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi: di mana kita mendapatkan informasi? Pertanyaan yang jauh lebih sulit adalah: apa yang terjadi pada ilmu ketika informasi menjadi begitu murah, mudah, cepat dan INSTAN?

*

Barangkali kita selama ini keliru memahami masalah pendidikan. Kita mengira persoalan utama adalah kekurangan informasi. Karena itu kita membangun perpustakaan, mencetak buku, membuat database, menyediakan internet, mengembangkan perpustakaan digital, dan sekarang menggunakan AI.

Semua itu benar. Tetapi setelah informasi tersedia dalam jumlah yang nyaris tak terbatas, kita menemukan persoalan baru.

Ternyata manusia tidak otomatis menjadi berilmu hanya karena ia mempunyai akses kepada informasi. Orang bisa membaca seratus kitab dan tidak memahami satu persoalan secara mendalam. Orang bisa menghafal seribu jawaban tetapi tidak tahu kapan sebuah jawaban boleh digunakan. Orang bisa mengutip pendapat ulama tetapi tidak memahami mengapa ulama tersebut sampai pada pendapat itu.

Informasi bertambah. Tetapi kedalaman belum tentu. Mungkin justru inilah salah satu persoalan terbesar pendidikan kita hari ini. Kita hidup dalam zaman kelimpahan informasi, tetapi kelangkaan kedalaman. Dan kelangkaan itu akan menjadi semakin terasa ketika mesin semakin pintar.

Dahulu, seorang pelajar yang tidak mengetahui sesuatu harus mencari orang yang mengetahui. Ia mencari guru. Mencari kiai. Guru menunjukkan kitab. Kitab membuka persoalan. Persoalan membawa kepada kitab lain. Dari sana ia menemukan pendapat yang berbeda. Ia bertanya lagi. Guru mengoreksi. Ia membaca kembali.

Mungkin ia salah memahami. Mungkin ia terlalu cepat menyimpulkan. Mungkin ia mengira satu kalimat berlaku untuk semua keadaan, padahal ternyata ada konteks yang panjang di belakangnya.

Begitulah ilmu tumbuh. Pelan. Kadang melelahkan. Kadang membosankan.

Tetapi justru karena panjang itulah sesuatu terbentuk. Bukan hanya pengetahuan, tetapi cara berpikir. Dan mungkin inilah hal pertama yang perlu kita ingat ketika berbicara tentang pendidikan di zaman AI: mendapatkan jawaban tidak sama dengan mendapatkan ilmu.

Ilmu mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki informasi: tradisi. Sebuah kitab tidak muncul dari ruang kosong. Ia ditulis oleh seseorang yang hidup dalam zaman tertentu, belajar dari guru tertentu, membaca kitab tertentu, berhadapan dengan persoalan tertentu, dan berbicara dalam tradisi keilmuan tertentu.

Satu istilah bisa mempunyai sejarah. Satu pendapat bisa memiliki konteks. Satu kalimat bisa memiliki maksud yang tidak tampak jika hanya dibaca secara harfiah. Karena itu, memahami ilmu tidak cukup dengan mengetahui teksnya. Kita juga perlu mengetahui bagaimana teks itu dibaca.

Dan di sinilah guru menjadi penting. Guru tidak hanya mengatakan, “Ini jawabannya.” Kadang guru justru mengatakan, “Jangan buru-buru mengambil kesimpulan.” Kalimat pendek semacam itu mungkin tidak pernah muncul dalam database. Tetapi bisa jadi justru itulah pendidikan.

*

Maka kita sampai kepada sesuatu yang sangat akrab dalam tradisi pesantren: sanad.

Sanad sering dibayangkan hanya sebagai rantai nama. Si Fulan belajar kepada Fulan. Fulan belajar kepada Fulan. Terus ke atas.

Tetapi sanad bukan sekadar rantai nama. Kalau sanad hanya daftar nama, kita bisa menyimpannya dalam spreadsheet dan selesai. Padahal tidak demikian.

Di dalam sanad ada transmisi pengetahuan. Ada cara membaca. Ada cara memahami. Ada cara menimbang pendapat. Ada cara memperlakukan ilmu. Ada koreksi. Ada keteladanan. Ada adab. Ada pengalaman yang berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Bahkan ada sesuatu yang sangat sederhana tetapi sangat penting: seseorang pernah mengatakan kepada seseorang yang lain, “Cara memahami bagian ini bukan begitu.”

Kalimat itu tidak selalu tertulis dalam kitab. Tetapi ilmu bisa berubah karenanya. Karena itu, sanad sesungguhnya bukan hanya rantai transmisi informasi. Ia adalah salah satu bentuk rantai transmisi pemahaman. Dan mungkin, justru di tengah zaman AI, kita mulai menyadari kembali pentingnya hal tersebut.

Sebab AI dapat memberikan jawaban. Tetapi siapa yang mengajarkan kita bagaimana meragukan jawaban?

AI dapat menemukan pendapat. Tetapi siapa yang mengajarkan kita bagaimana menimbang pendapat?

AI dapat menunjukkan teks. Tetapi siapa yang mengajarkan kita kapan teks itu harus dipahami secara harfiah dan kapan ia harus dibaca bersama konteksnya?

AI dapat merangkum seribu halaman menjadi sepuluh paragraf. Tetapi siapa yang mengajarkan kita bagian mana dari seribu halaman itu yang justru tidak boleh diringkas?

Di sinilah persoalan pendidikan menjadi lebih dalam. Semakin mudah mesin menemukan informasi, semakin penting manusia memiliki kemampuan menilai informasi. Dan kemampuan menilai tidak lahir hanya dari akses. Ia lahir dari pendidikan. Dari latihan. Dari pengalaman. Dari tradisi. Dari guru. Dari kiai.

Mungkin, di tengah dunia yang membuat semua jawaban begitu mudah ditemukan, kita justru perlu bertanya kembali: dari mana ilmu seharusnya datang?.(NM & DL)

Also Read

Leave a Comment