Dolan Alumni #2: Perjuangan Irsyadul Ibad, dari ‘Mbetik’ Hingga Bumi Aswaja

Ahmad Maghfur

Ahmad Maghfur

IKBAL Qomaruddin berfoto bersama saat Dolan Alumni #2 di Pondok Pesantren Bumi Aswaja, Rabu (29/9). Foto: Dokumentasi IKBAL Qomaruddin.

Qomaruddin.com Sore hari itu, Rabu (29/9), halaman asrama dan masjid Bumi Aswaja terlihat ramai oleh anak-anak kecil. Sebagian mengaji, sebagian bermain, dan ada juga yang njajan di sekitaran pondok, mengingatkan kita masa-masa saat nyantri di Pondok Pesantren Qomaruddin.

Pondok pesantren Bumi Aswaja yang terletak di Jl. Raya Wonokerto Dukun, Wonokerto, Kecamatan Dukun, Gresik itu ternyata memang ada hubungannya dengan Pondok Pesantren Qomaruddin.

Pemangku dan pendiri Pondok Pesantren Bumi Aswaja, Irsyadul Ibad Zarachim adalah salah satu alumni dari Pondok Pesantren Qomaruddin. Ia pernah mondok di Qomaruddin dan merupakan lulusan MTS Assaadah tahun 1982 dan MA Assaadah lulusan tahun 1985.

Tidak hanya itu, ia juga merupakan kerabat dan sanak famili dari Keluarga Besar Bani Qomaruddin dari garis keturunan Kiai Harun (Kiai Sholeh Tuo), menurut data Abu Naim Leran yang pernah ia dapatkan dari kakaknya Pak Makmun, Pak Maksum.

Alumni Qomaruddin, Irsyadul Ibad.
Alumni Qomaruddin, Irsyadul Ibad.

Dengan ramah, sosok yang juga pernah menjabat sebagai Dewan Pembina PC GP Anshor Gresik itu menyambut Pengurus IKBAL Qomaruddin di kediamannya, lengkap dengan suguhan dan pranata kultur pesantrennya.

“Saya itu awalnya tidak seberapa tahu. Awalnya saya mondok di Mas Durrahim (Ta’lim). Setengah tahun di sana. Lalu sowan di Qomaruddin, waktu itu Mbah Sholeh Tsalis atau Kiai Musthofa. Lha di situ, Mbah Sholeh Tsalis bilang, ‘Kon iki sang putu, Bapakmu karo Ibukmu iku aku sing nikahno’,” kata Irsyadul Ibad, memulai cerita.

Maka dari itu, Irsyadul Ibad merupakan salah satu santri Qomaruddin yang menangi dua kiai, Mbah Sholeh Tsalis dan Kiai Ahmad Muhammad Al-Hammad (Kiai Mat).

Cerita Demo Pak Muslih

Sebagai mana santri-santri Qomaruddin, mantan Wakil Ketua Tanfidz DPC PKB Gresik itu juga merupakan santri yang menghormati guru atau ustaz. Puluhan tahun berlalu, tapi ia masih ingat betul bagaimana ketatnya Pak Ata, lalu keras dan tegasnya Pak Taki, Pak Muslih, Pak As’ad dan sebagainya.

Salah satu hal yang paling berkesan bagi beliau ketika di Qomaruddin adalah peristiwa mendemo Pak Muslih, salah satu guru yang sangat dia hormati karena model pengajarannya yang nyaman.

“Pak Muslih iku gak iso ngguyu, tapi hormat, soale ngajare enak. Pak Muslih mbiyen tau tak demo, gak faham, diprovokasi guru-guru. Sing dituduh Pak Asad,” katanya dengan nada menyesal mengingat kenakalannya.

Karena demo itu kemudian ada beberapa yang dikeluarkan.

“Demo, ditokno. Termasuk Pak Hamim iku yang jadi korban, dia lalu dipindah ke Denanyar. Yai Mat nyuruh pindah. Lha di sana dia [Pak Hakim] ketemu Gus Ipul,” kenangnya.

Tak berapa lama, setelah cerita panjang lebar, akhirnya ia ingat yang menjadi persoalan kenapa dia mendemo guru yang sangat dihormatinya.

“Oh. Masalahnya itu bayar ujian akhir Ma’arif yang tidak dilaksanakan. Yaa Allah, padahal pak Asad tidak ikut apa-apa. Tapi malah jadi korban. Ya anak-anak yang demo,” sesalnya.

Namun, selain menyesalkan perbuatannya itu, pria kelahiran 28 Mei 1965 itu juga mengatakan bahwa memang dulu banyak anak nakal tapi ‘ya itu kan bagian dari kreativitas’.

Mbetik itu juga kan bentuk dari kreativitas,” tuturnya.

Mendirikan PMII Bojonegoro

Setelah lulus dari MA Assaadah, pria yang pernah menjadi anggota DPRD Fraksi PKB Kabupaten Gresik itu melanjutkan sekolah di Fakultas Tarbiyah Sunan Ampel. Tapi sebelumnya Pak Irsyad mengatakan bahwa awalnya ia ingin melanjutkan di Jakarta.

“Setelah lulus itu ke Jakarta. Lha, di sana ketemu Effendy Choiri, wong Bulangan. Saya itu mau kuliah di Jakarta, tapi gak disudohno, meneng ae, ya akhir e muleh aku dan sekolah di IAIN Surabaya Bojonegoro,” tuturnya.

Di IAIN Sunan Ampel itu, jiwa kritis Irsyadul Ibad semakin terbangun hingga semakin sering ikut turun aksi. Bahkan ia sempat ditahan di Polres selama 3 hari. Namun semua itu ia lalui dengan tulus dan sabar hingga berhasil mendirikan PMII Bojonegoro.

Ketika ditanya siapa yang menginspirasinya, ia menjawab: “Pak Asad kan ketua komisariat IAIN. Uenak nek ngulang. Keren. Dadi yang menginspirasi saya mendirikan PMII Bojonegoro itu terutama Pak Asad. Dan guru-guru lain. Tahun 1985 itu mulai berdiri, tapi SK-nya 1986 dari Pak Suryadarma Ali, PMII Ciputat.”

Bumi Aswaja

Bertahun-tahun melanglang buana, Irsyadul Ibad kemudian memutuskan untuk pulang di kampung halamannya dan memilih untuk mengamalkan ilmunya di kampung.

Setelah lulus pasca sarjana di Universitas Narotama Surabaya, ia mengabdikan diri pada Pondok Pesantren Bumi Aswaja.

“Pondok ini itu berdiri 2012, secara operasional ono pondok e. Tapi sebelum itu, sudah ada, piagam-piagamnya yang untuk santri dibuat sendiri meskipun tidak ada pondoknya,” kenangnya.

Perjuangan mendirikan pondok itu tidak mudah, berbagai tantangan dan rintangan menghalanginya. Namun Irsyadul Ibad tetap berjuang sedikit demi sedikit.

“Sedikit-sedikit. Awalnya MTS Ma’arif, PAUD. Ini sebelumnya PAUD. Terus lama kelamaan jadi Pondok. Lha ini jadi asrama,” katanya menunjuk bangunan yang menjadi tempat beliau menjamu Pengurus IKBAL Pusat.

MPS Ma’arif, ini sebelumnya PAUD. Terus lama kelamaan jadi Pondok. Lha ini jadi asrama.

Dan sekarang, Pondok Pesantren Bumi Aswaja mulai dikenal oleh kalangan luas mempunyai SMK Bumi Aswaja jurusan multimedia.

“Bumi Aswaja itu ada maksudnya. BUMI itu artinya Bimbingan Umat Milik Irsyadul Ibad, dan Aswaja itu adalah alirannya ahlus sunnah wal jamaah,” terangnya saat ditanya mengenai arti Bumi Asjawa.

“Atau Aswaja juga bisa berarti ‘Asrima dan Warjais’, beliau adalah yang ‘mupu’ bapak saya. Jadi nggak bisa orang lain. Tidak boleh orang lain,” tegasnya.

Artikel Terkait

Leave a Comment