Utang Rasa Kami Padamu, Sayyidah Khadijah

| |

Hasan Mahfudh
Ikuti:

qomaruddin.com – Tak ada kata-kata. Jubahnya robek, basah kuyup dihujani keringatnya. Lengan dan kakinya penuh goresan, sedikit tampak lebam. Mungkin duri-duri dan bebatuan tajam mengenainya, sepanjang jalan. Terhuyung-huyung menuruni gunung. Kerikil-kerikil berterbangan terdorong kaki yang tersandung-sandung. Dadanya sesak, terasa ada yang ingin meledak.

Sesekali ia berhenti, memberi jalan hela nafas panjangnya. Ingin rasanya segera pergi karena gua yang selama ini sunyi, tiba-tiba saja ngeri. Berbulan dia memutuskan menepi, tapi mengapa semua ini terjadi. Wahai pemilik hati? Siapakah yang dapat mengerti?

Aku menghawatirkan jiwaku… Kupikir aku telah gila” dengan penuh kebimbangan awal sekali ini diucapkan.  “Selimuti aku, Selimuti aku…” pintanya. Gemetar, menggigil, tulangnya seakan rontok, setiap sendinya terpisah tiada daya. Yang mendekapnya belum lama tadi bukanlah manusia. Pengap sungguh di dada. Tekanannya terlalu kuat untuk dikatakan bangsa sesama. Sedikit saja lebih lama, mungkin taruhannya adalah nyawa. Hampir saja dia menghentikan aliran darah.

Segera penghuni rumah meraih tubuh sang lelaki yang tampak payah. Tangkas sekali ia menggapai sehelai selendang suteranya. Seketika pula kepala lelaki itu tertunduk bersandar di pangkuannya. Jubahnya tak lagi tampak, direbut indah wangi sutera. Sesekali ia mengadu kepala, tak ada celah diantaranya. Seiring angin menyelinap, rasa cemburu ingin bersama. Menghukum pintu yang tak tertutup karena lupa. Air putih yang biasa disediakan, sama sekali tak terjamah. Tidak ada kesempatan untuk mengayuhnya karena lelaki itu hanya ingin dipeluk.

Iya, dia hanya ingin dipeluk.

Entah apa yang ada di benak perempuan itu. Sabar sekali ia menunggu. Ketenangan tampak di wajahnya. Senyumannya berkali-kali memancar merekah. Ada kekuatan yang ingin disampaikan, tanpa kata tidak pula dengan tanya. Ia tahu betul lelakinya belum mampu mengendalikan bibirnya, apalagi menemukan suaranya. Tanpa terasa, kekosongan ini pelan-pelan membunuh senja.

Sampai malam benar-benar utuh, saat jubah yang penuh keringat kian mengering, perlahan lelaki itu menemukan dirinya. Suaranya dapat didengar meski berat terbata-bata. Lirih sia sampaikan kata demi kata, sungguh ini lebih dari indah. Susunannya tak biasa. Kalimatnya teramat istimewa. Seribu satu makna:

“Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq, iqra’ wa rabbukal akram, alladzi ‘allama bil Qalam”

Lima belas tahun bersama, belum sekalipun yang seperti ini terucap dari bibir sang lelaki. Mendengarnya, senyum perempuan ini semakin merekah. Kata-kata telah usai, tapi pelukan tak kunjung terurai. Pelukan itu murni miliknya. Ada kelegaan. Keyakinan yang selama ini hadir, kini benar-benar terbukti. Rangkaian kata-kata itu adalah tanda. Lelaki yang dicintainya bukanlah manusia biasa.

Mulai detik ini semuanya tak lagi sama!

Perempuan sewajarnya merasa tak adil dengan peristiwa ini. Bagaimana tidak, beban yang ditanggung oleh kekasih hatinya sungguh sangat berat. Bukankah gunung tertunduk, lesu, lemah tak berdaya menerimanya? Kata-kata yang selanjutnya dikenal sebagai wahyu, kelak akan menyalakan api hasut kemarahan para pembencinya. Mungkin ia terpikir mengisolasi suaminya. Mengurungnya di rumah. Mengkarantina diri di tempat khalwatnya. Mengasingkannya dari warga. Seandainya bisa, menutupi kebenaran sembari menyampaikan kalau itu halusinasi belaka. Atau bahkan dalam tingkat paling ekstrem, ia sendiri yang akan menghukumnya.

Karena tidak hanya kehormatan dan nyawa kekasihnya yang terancam, tapi juga pada dirinya.

Tapi nyatanya, cinta perempuan ini tidak sebuta itu. Hatinya luas bagai samudera. Tubuhnya tegar tak tergoyahkan laksana gunung api menjulang tinggi. Peluknya sungguh menenangkan hingga Sang Nabi terhanyut menutup kedua matanya sebagai penutup lelah hari yang penuh dengan makna.

Perlahan, pertanyaan demi pertanyaan di hati perempuan ini terjawab. Pengetahuan dan kebijaksanaan yang ia dapatkan dari sepupunya, Waraqah, kian menguatkan. Hingga pada akhirnya dialah orang pertama yang mengimani risalah. Menyerahkan segala harta dan jiwa. Jihad atas nama cinta.

Meski tidak seperti kisah sang mistikus cinta yang sweet, peristiwa ini tidak hanya romantis. Ia adalah wujud kepahlawanan yang begitu heroik.

Khadijah namanya, Perempuan tangguh yang hanya dari rahimnya lahir keturunan Sang Utusan, Nabi Agung Muhammad SAW. Sosok istri yang nantinya menyisakan tetes air mata kesedihan teramat dalam bagi baginda, karena ia harus bertemu dengan Tuhan pemilik alam di saat sulit perjuangan, juga saat sedang sayang-sayangnya.

Kiranya di saat sulit seperti ini, tidak hanya lagu Aisyah yang kita dendangkan, tapi shalawat cinta Khadijah al-Kubra, perlu juga kita agungkan.

Sa’duna fiddunya Fauzuna fil ukhra bi Khadijatal Kubro wa Fatimataz Zahra.. bi Khadijatal Kubro wa Fatimataz Zahra…

Sampurnan, 7/4/2020

pertama kali diterbitkan di Islami.co dengan judul: Cinta Khadijah kepada Rasul Tak Hanya Sweet, tapi juga Heroik

Previous

Obituari Gus Fu’: Sang Pendidik, Penggerak dan Pengayom Santri

Pandemi dan Pesan Ketawadhuan dari KH Moh. Iklil Sholeh

Next

Leave a Comment