Ngaji Burdah; Penghakiman Rindu

| |

Qomaruddin.comTidak terasa bulan Maulid telah tiba, bulan yang sangat dirindukan para pecinta selawat. Peringatan maulid dilaksanakan di mana-mana, baik yang formal, megah, kampungan, hingga yang sangat sederhana. Selain dikenal sebagai bulan selawat, bulan ini juga dikenal sebagai bulannya kondangan. Banyak pemuda-pemudi melepas status kelajangannya di bulan ini. Semakin banyak undangan nikah, semakin banyak buwuhan.

Oke, lanjut, maaf, tadi intermezzo sedikit. Setelah kemarin mengisahkan tentang seseorang yang galau, saat ini kita masih berada pada tema yang sama seperti judul lagu Virzha, Tentang Rindu. Seseorang yang dikisahkan di sini pastinya mencapai tingkat kerinduan yang legendaris. Level tinggi lah kerinduannya. Tentu saja sosok yang dirindukan di sini pasti sangat istimewa. Yuk, kita cek kelanjutan kisahnya;

أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الْحُبَّ مُنْكَتِمٌ # مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِمِ

Adakah seseorang yang merindu mengira bahwa cintanya itu bisa disembunyikan? Sedang air matanya masih bercucuran dan hati yang terbakar asmara.

Kataabb memiliki arti menuangkan. Di sini kata abb diartikan sebagai orang yang rindu karena saking seringnya dia menuangkan air mata dalam tangisnya. abb juga bisa bermakna cinta dan rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Orang Arab punya banyak varian kosakata ubb, seperti abb, ‘isyq, dan lain-lain. Dan semuanya memiliki tingkatan dan penggunaannya masing-masing.

Lalu muncul pertanyaan, apakah cinta itu bisa disembunyikan? Karena saya masih pemula dalam hal ini, saya mengutip pernyataan Gus Mus saja yang mengatakan, “Kalau kamu menyangka bisa menyembunyikan cinta, berarti kamu kurang pengalaman”.  Dalam hal ini yang paling sering gagal menyembunyikan cinta adalah para laki-laki yang sangat mudah salting ketika bertemu si Doi.

لَوْلَا الْهَوَى لَمْ تُرِقْ دَمْعًا عَلَى طَلَلٍ # وَلَا أَرِقْتَ لِذِكْرِ الْبَانِ وَالْعَلَمِ

Kalau bukan karena cinta engkau tidak akan mencucurkan air mata atas reruntuhan. Dan engkau tidak akan terjaga sebab mengingat pohon bān dan Gunung ‘Alam.

Masih dalam dialog antara penyair dengan dirinya sendiri. Dia masih menginterogasi penyebab ke-ambyar-annya ini. Sambil bertanya, “Kok anda bisa-bisanya tidak mengakui rasa rindu, padahal hanya dengan melihat reruntuhan saja menangis, dan sebab mengingat keharuman pohon Bān dan gunung ‘Alam bisa membuatmu terjaga sepanjang malam? Pasti ada sesuatu di balik ini”.  

فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَ مَا شَهِدَتْ # بِهِ عَلَيْكَ عُدُوْلُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

Maka bagaimana bisa kamu mengingkari kerinduan setelah kejujuran air mata dan kesakitan telah memberi kesaksian atas rindumu?

Seakan-akan orang yang sedang ambyar ini sedang disidang di hadapan hakim dalam kasus pengingkarannya atas kerinduannya. Padahal saat ini ada dua saksi jujur, yaitu tangisan dan kesakitannya, menjadi saksi yang memberatkan atas kasusnya.

Pemilihan kata dalam bait ini juga tidak sembarangan. Susunan kalimat ini mengandung makna bahwa hal ini aneh. Uslūb (gaya bahasa) pada redaksi ini mirip pada surah al-Baqarah ayat 28. Kata syahida ketika diiringi dengan kata laka mempunyai makna kesaksian yang meringankan. Sedangkan ketika kata syahida disambung dengan kata ‘alaika memiliki arti kesaksian yang memberatkan. Dan bait ini menggunakan redaksi syahidat bihi ‘alaika. So, bisa dipastikan bahwa kalimat ini bermakna kesaksian yang memberatkan atas kasus pengingkaran kerinduan penyair. Klopp banget!.

وَأَثْبَتَ الْوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنَى # مِثْلَ الْبَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالْعَنَمِ

Rasa mabuk rindu meninggalkan garis di kedua pipi, meninggalkan bekas tangis dan lara laksana warna kuning bunga bahār dan kemerahan dahan pohon ‘anam.

Masih dalam proses persidangan, terdapat saksi baru yang cukup menguatkan argumen si penuntut. Muncul bukti baru yaitu garis di kedua pipi bekas tangisan air mata, yang satu berwarna kuning seperti bunga bahār, sedang satunya lagi berwarna kemerahan dahan pohon ‘anam. Tubuhnya juga mulai menjadi kurus kering dan pucat pasi. Hal ini pasti disebabkan oleh kerinduan yang sangat mendalam.

نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِيْ # وَالْحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتِ بِالْأَلَمِ

Memang benar, nampak bayangan kekasih yang kucintai berjalan di waktu malam dan membuatku terjaga. Dan rasa cinta menghalangi kenikmatan dengan derita.

Setelah sekian lama mendapat bombardir serangan dari berbagai macam kesaksian, akhirnya dia mengakui perasaannya. Dia mengklarifikasi penyebabnya, dia melihat bayangan kekasihnya berjalan di malam hari yang menyebabkannya tidak bisa tidur. Dan kekasih di sini tidak lain adalah Nabi Muhammad saw.

Berdasarkan pengalamannya itu, dia membuat quote bahwa cinta itu dapat menghalangi kenikmatan dengan kepedihan. Cinta itu katanya menyenangkan, kok menyakitkan? Ketika jauh, sedih karena rindu. Ketika dekat, sedih takut kehilangan. Perjalanan mulus senang terus, bukanlah cinta. Gara-gara cinta, seseorang mau melakukan hal yang sebenarnya tidak diinginkannya.

Kata al-lażżāt merupakan isim jama’ yang bermakna kenikmatan-kenikmatan. Sedangkan kata al-alam adalah isim mufrad yang berarti suatu derita. Jadi al-alam mengalahkan al-lażżāt dalam kasus cinta. Karena cinta, banyaknya kenikmatan terhalang oleh satu derita. Inilah namanya pengorbanan cinta, inilah kehidupan dunia yang tidak ideal, hanya akhirat yang punya kehidupan ideal.

Semoga kerinduan kita pada Nabi bisa terbalaskan dengan tuntas. Wa Allāhu A‘lam.

Tabik,

Latest posts by Agil Muhammad (see all)
Previous

Ngaji Burdah; Kerinduan yang Akut

Haul Bungah Ke-122; Edisi Spesial

Next

Leave a Comment