Mengenal Kitab “Qashidah Fis Shaum” Karya KH. M. Sholeh Tsani

0
56
Mengenal Kitab “Qashidah Fis Shaum” Karya Kh. M. Sholeh Tsani

Qomaruddin.comMengenal Kitab “Qashidah Fis Shaum” Karya KH. M. Sholeh TsaniKitab “Qashidah Fis Shaum” merupakan salah satu kitab karya KH. M. Sholeh Tsani, pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik yang ke-4. Pada mulanya, kitab ini hanya berbentuk manuskrip tulisan tangan yang berhasil ditemukan oleh Ust. A. Wasil, salah seorang anggota tim manuskrip Qomaruddin.

Sekilas tentang Manuskrip Kitab “Qashidah Fis Shaum”

Tidak diketahui dengan jelas kapan kitab yang masih berbentuk manuskrip ini ditulis oleh KH. M. Sholeh Tsani. Yang jelas, dalam manuskrip tersebut terdapat catatan bahwa kitab manuskrip ini selesai ditulis pada waktu Ashar tanggal 28 Rajab 1331 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Juli 1913.

Jika dihubungkan dengan masa hidup KH. M. Sholeh Tsani, dapat diketahui bahwa manuskrip ini tidak ditulis sendiri oleh KH. M. Sholeh Tsani. Hal ini sebab manuskrip tersebut ditulis tahun 1331 H, padahal KH. M. Sholeh Tsani meninggal sekitar tahun 1320 H. Artinya, manuskrip tersebut disalin ulang setelah 11 tahun wafatnya KH. M. Sholeh Tsani.

Keterangan tentang waktu penulisan manuskrip dan penisbatan isi manuskrip kepada KH. M. Sholeh Tsani
Keterangan tentang waktu penulisan manuskrip
dan penisbatan isi manuskrip kepada KH. M. Sholeh Tsani

Meskipun demikian, terdapat hal yang meyakinkan bahwa isi dari manuskrip tersebut adalah buah karya KH. M. Sholeh Tsani. Di bagian penutup manuskrip ditulis keterangan yang pada intinya menyatakan isi dari kitab tersebut adalah buah karya dari Muhammad Sholih bin Muhammad bin Ishaq Sampurnan, yang merupakan nama lengkap dari KH. M. Sholeh Tsani.

Metode Kitab “Qashidah Fis Shaum”

Dari judul yang digunakan, dapat dilihat kalau kitab “Qashidah Fis Shaum” ini disusun menggunakan metode bait syair. Adapun Bait syair dalam kitab ini disusun menggunakan bahr rajaz berwazan mustaf’ilun mustaf’ilun mustaf’ilun # mustaf’ilun mustaf’ilun mustaf’ilun.

Penggunaan bahar tersebut guna memudahkan para pembacanya, utamanya dari kalangan santri, untuk mendendangkan dan menghafalnya. Hal ini sebab bahar rajaz merupakan bahar yang umum dikenal di kalangan santri. Kitab-kitab syair terkenal seperti ‘Imrithy, Alfiyah Ibnu Malik, dan ‘Aqidatul ‘Awam juga menggunakan bahar rajaz.

Besar kemungkinan dipilihnya bahar rajaz dalam penyusunan kitab “Qashidah Fis Shaum” merupakan salah satu ikhtiyar KH. M. Sholeh Tsani agar kelak kitab ini mudah didendangkan, dihafalkan dan diamalkan oleh para pembacanya. Jika para santri bisa mendendangkan bait-bait dalam kitab ‘Imrithy, Alfiyah Ibnu Malik maupun ‘Aqidatul Awal, maka dapat dipastikan para santri itu juga bisa mendendangkan bait-bait dalam kitab “Qashidah Fis Shaum”.

Manuskrip Kitab Qashidah Fis Shaum
Manuskrip Kitab Qashidah Fis Shaum

Dilihat dari bahasa yang digunakan, besar kemungkinan kitab qashidah ini diperuntukkan untuk santri tingkat awal. Penggunaan bahasa yang ringkas dan mudah serta disusun menggunakan metode bait syair ini memudahkan santri-santri tingkat awal menghafal dan memahaminya. KH. M. Sholeh Tsani memang gemar menyusun kitab dengan metode bait syair. Di samping kitab “Qashidah Fis Shaum” ini, beliau juga telah menyusun kitab “Qashidah Lis Shibyan” mengenai ajaran tauhid yang ditulis dengan metode bait syair.

Isi dan Sistematika Kitab “Qashidah Fis Shaum”

Syair dalam kitab ini terdiri dari 33 bait yang menjelaskan tentang risalah puasa, baik puasa Ramadhan maupun puasa pada umumnya. Meski disusun menggunakan metode bait yang sudah pasti berbeda jika ditulis dalam bentuk matan atau natsar, namun susbtansi yang terkandung dalam 33 bait ini dapat dianggap cukup untuk memberi pemahaman mengenai seluk beluk puasa.

Adapun sistematika pembahasan dalam kitab tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bait 1 s/d 2 membahas tentang pendahuluan bait yang meliputi ungkapan pujian kepada Allah Swt. dan shalawat atas Nabi Muhammad Saw. beserta keluarga dan sahabatnya;
  2. Bait 3 tentang hukum puasa Ramadhan;
  3. Bait 4 tentang cara mengetahui masuknya bulan Ramadhan;
  4. Bait 5 s/d 6 tentang syarat wajib puasa Ramadhan;
  5. Bait 7 s/d 9 tentang syarat sah puasa pada umumnya;
  6. Bait 10 s/d 11 tentang rukun puasa;
  7. Bait 12 s/d 13 tentang syarat niat puasa Ramadhan;
  8. Bait 14 s/d 19 tentang hal-hal yang membatalkan puasa;
  9. Bait 20 s/d 32 tentang hal-hal yang disunnahkan dan dimakruhkan saat berpuasa;
  10. Bait 33 tentang penutup.

Dari sistematika di atas, dapat dilihat bahwa pembahasan dalam kitab “Qashidah Fis Shaum” cukup komprehensif. Jika ditelusuri lebih dalam, ajaran-ajaran mengenai puasa dalam kitab ini menganut ajaran dalam mazhab Syafi’i. Misalnya saat menjelaskan syarat niat puasa Ramadhan, KH. M. Sholeh Tsani mensyaratkan agar niat itu dilakukan setiap hari ketika akan melakukan puasa.

Hal ini berbeda dengan mazhab Maliki yang mencukupkan niat pada awal masuknya bulan Ramadhan. Pendapat yang dipegang oleh KH. M. Sholeh Tsani itu merupakan pendapat yang dianut oleh ulama-ulama dalam lingkungan mazhab Syafi’i. Kiranya hal tersebut wajar, sebab dari sanad yang telah ditemukan sebelumnya, jalur keilmuan KH. M. Sholeh Tsani ini sampai kepada Imam Syafi’i melalui gurunya yang bernama Syekh Bakri Syatha, penulis kitab fikih Syafi’i  terkenal berjudul I’anatut Thalibin.

Meskipun dianggap telah komprehensif, namun untuk lebih memperjelas bahasan dalam sebuah bait tetap diperlukan kitab-kitab pembanding lain. Besar harapan, agar kemanfaatan dari kitab ini dapat dirasakan oleh banyak orang, maka alangkah baiknya jika kitab “Qashidah Fis Shaum” ini terus dikaji. Dan semoga kita yang mengkaji kitab tersebut, selain mendapatkan kemanfaatan, juga mendapatkan keberkahan dari penulisnya. Aamiin.

Penulis: M. Afif Yuniarto – Anggota Tim Manuskrip Pusat Studi Pesantren Qomaruddin*

*Silahkan kunjungi halaman instagram M. Afif Yuniarto untuk membaca ulasan per bait dari kitab ini.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here