Qomaruddin.com — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di era digital, penguatan karakter generasi muda Aswaja menjadi sebuah kebutuhan yang sangat penting. Menyadari hal tersebut, SMP BP Assa’adah menyelenggarakan kegiatan Pondok Aswaja dengan mengusung tema “Membangun Karakter Santri Aswaja di Era Generasi Digital” pada Sabtu, 19 April 2026 di Lt. 2 Gedung SMP BP Assa’adah.
Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) kepada para santri agar mereka tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius, moderat, dan berakhlakul karimah. Melalui kegiatan ini, para santri diajak untuk lebih memahami tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, mengenal lebih dalam tentang organisasi Nahdlatul Ulama, serta pentingnya hubungan antara kyai dan santri sebagai fondasi pendidikan karakter.
Penguatan Tradisi Amaliyah Aswaja An-Nahdliyah
Materi pertama disampaikan oleh Bapak KH. Muhammad Ala’uddin, Lc., M.SEI, selaku Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Bungah. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi Amaliyah Aswaja An-Nahdliyah, seperti tahlil, istighosah, shalawat, dan berbagai amalan yang telah menjadi bagian dari budaya keagamaan masyarakat Nahdlatul Ulama.

Beliau menekankan bahwa tradisi tersebut bukan sekadar ritual, tetapi merupakan sarana untuk memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah, serta menjaga keberlangsungan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Para siswa diharapkan mampu memahami makna di balik amalan tersebut sehingga dapat mengamalkannya dengan baik, penuh kesadaran serta rasa bangga dan cinta terhadap Nahdlatul Ulama’.
Mengenal Nahdlatul Ulama dan Badan Otonomnya
Materi kedua disampaikan oleh Ibu Ainul Mahmudah, M.Pd, Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Bungah. Dalam sesi ini, para santri diajak untuk lebih mengenal organisasi Nahdlatul Ulama beserta berbagai badan otonom (banom) yang ada di dalamnya dengan gaya yang interaktif sehingga membuat seluruh peserta kegiatan bersemangat.
Beliau menjelaskan juga bahwa banom NU seperti Gerakan Pemuda Ansor, Fatayat NU, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama memiliki peran penting dalam membina generasi muda agar aktif, berkarakter, serta mampu berkontribusi bagi masyarakat. Melalui pemahaman ini, para siswa diharapkan memiliki rasa bangga menjadi bagian dari tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan oleh Nahdlatul Ulama.
Penguatan Hubungan Antara Kyai dan Santri
Materi ketiga disampaikan dengan sangat lugas dan menghibur oleh Bapak Ali Mujib, S.Pd., M.Pd, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Gresik. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa hubungan antara kyai dan santri merupakan salah satu pilar utama dalam tradisi pendidikan pesantren.
Menurut beliau, hubungan tersebut bukan hanya hubungan antara guru dan murid, tetapi juga hubungan spiritual yang dilandasi oleh rasa hormat, keteladanan, serta keberkahan ilmu. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan pendidikan pesantren dalam membentuk karakter santri yang berakhlak, disiplin, dan memiliki adab yang tinggi.
Penutup dengan Bai’at Santri Aswaja
Sebagai penutup kegiatan, dilaksanakan prosesi bai’at santri Aswaja yang dipimpin langsung dengan sangat khidmat oleh Bapak Ali Mujib, S.Pd., M.Pd. Prosesi ini menjadi momen yang penuh makna bagi para siswa, sebagai bentuk komitmen untuk menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan Pondok Aswaja ini, diharapkan para siswa SMP Assa’adah mampu menjadi generasi santri yang berkarakter kuat, berpegang teguh pada nilai-nilai Aswaja, serta mampu menghadapi tantangan era digital dengan bijak.
Dengan bekal ilmu, akhlak, dan tradisi yang kuat, para santri diharapkan dapat menjadi generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai keislaman dan ke-NU-an.
Penulis: Siti Wasi’atur Rohmah






