Qomaruddin.com — Para siswa bersama guru pendamping mengikuti walking tour Jelajah Budaya di kawasan Bandar Grisse, Gresik. Kegiatan pembelajaran luar kelas ini bertujuan mengenalkan siswa pada warisan sejarah, perkembangan sosial, serta keberagaman budaya yang membentuk identitas Kota Gresik sebagai kota pelabuhan tua.
Perjalanan dimulai dari Pendopo Gresik, tempat siswa mendapat penjelasan tentang perkembangan pemerintahan dan kehidupan masyarakat masa lampau. Selanjutnya, rombongan mengunjungi sejumlah bangunan bersejarah, seperti Masjid Jami’ Gresik, Gedung DPRD, kantor Telkom lama yang dahulu berfungsi sebagai kantor telegram, gereja lawas, serta kawasan Alun-Alun Gresik.

Siswa juga diajak menyusuri kawasan permukiman multietnis seperti Kampung Arab, Kampung Cina, Kampung India, dan Kampung Jawa. Salah satu lokasi yang menarik perhatian adalah Kelenteng Kim Hin Kiong, yang menjadi bukti kuat keberagaman budaya Tionghoa di Gresik sejak ratusan tahun lalu.
Kegiatan berlanjut ke Sentra Batik Gajah Mungkur, tempat siswa melihat proses pembuatan batik cap dan batik tulis. Berbagai motif khas Gresik seperti damar kurung, ikan bandeng, rusa, angin, dan bangunan Gajah Mungkur menjadi pengetahuan tambahan bagi siswa tentang kreativitas masyarakat lokal.

Guru pendamping, Ibu Kris Dyah Masyitho, menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna. “Siswa dapat melihat langsung jejak sejarah Gresik. Ini membuat pembelajaran lebih konkret dan mudah dipahami,” ujarnya.
Salah satu siswa kelas XI-7, Laras, juga mengaku senang mengikuti kegiatan ini. “Belajar sejarah jadi lebih menarik karena bisa melihat bangunan aslinya. Rasanya berbeda dengan hanya membaca di buku,” tuturnya.

Melalui kegiatan walking tour jelajah budaya ini, siswa diharapkan semakin memahami dan menghargai sejarah lokal serta menyadari bahwa Gresik memiliki peradaban besar yang terbentuk dari keberagaman budaya, perdagangan, dan interaksi sosial sejak masa lampau.
Penulis: Media SMA Assa’adah






